Aku terpaku. Ini bukan mimpi , aku tidak sedang berbaring di tempat tidur. Jelas aku sedang berada di sebuah tempat ramai , dengan banyak kesibukan disekitarku. Tapi aku bisa menangkapnya , menangkap sosokmu sedang berjalan kearahku.
Aku berdiri dari tempat dudukku. Memastikan kali ini pandanganku sedang normal. Iyaa .. Itu sungguh – sungguh kamu. Masih sama .. Masih kamu yang dulu pernah mencintaiku. Masih kamu dengan aura yang tak dimiliki laki – laki manapun. Masih sama ..
Sekarang kamu berdiri tepat dihadapanku. Dengan senyummu yang dulu. Pertama kali aku jatuh cinta padamu karna senyum itu. Pertama kali aku tertarik memasuki duniamu karna senyum itu. Sekarang aku bisa melihatnya lagi , begitu dekat. Setelah cukup lama aku kehilangannya. Aku ... bahagia. Sebuah bahagia yang luar biasa bahagia. Dan ini sama sekali tidak berlebihan ..
“Heii , sudah lama menunggu?”
Aku tergagap. Sejenak yang indah , sejenak aku kembali pada masa – masa itu. Ketika hal buruk itu belum terjadi pada kita ..
“Eh , belum lama kog. Emm , duduk ajja. Kamu mau pesen apa?” , bahkan wangi parfumnya masih sama. Dia .. masih dia yang dulu. Mungkin perbedaannya hanya dulu dia mencintaiku , sekarang ..
“Kamu lupa makanan kesukaanku?”
Yaa Tuhan .. Mana mungkin aku melupakan itu .. Aku masih ingat semua tentangmu , sayang. Masih sangat jelas ..
Aku tersenyum ke arahnya. Lalu memanggil pramusaji dan memesan makanan kesukaannya tanpa kesalahan sedikit pun. Aku bisa melihat sinar kagum dimatanya.
“Terima kasih. Kamu masih mengingatnya dengan sangat baik. Kukira kamu sudah berhasil melupakan segalanya tentangku setelah apa yang pernah kulakukan padamu”
Aku tertawa pelan. Menertawakan kepolosannya , “Aku bukan orang seperti itu. Apa yang telah masuk ke hidupku tak akan begitu saja kulupakan. Apalagi jika sesuatu itu berharga .. sepertimu”
“Kamu .. masih sama. Selalu membuatku merasa dihargai”
“Bukankah itu yang kamu mau? . Menjadi seseorang yang dihormati , bukan ditakuti”
“Yaa. Dan aku masih memegang prinsip itu hingga sekarang. Emm , bagaimana dengan percintaanmu? . Maksudku pacarmu?”
Aku kembali tertawa kecil. Kali ini menertawakan ketidakpekaannya. Dia pikir aku seperti dia , begitu gampang berpindah ke lain hati. Begitu tanpa dosa melupakan kenangan yang telah dia buat sendiri. “Apa perlu aku menjawab itu? . Apa pentingnya untukmu?”
“Tentu. Mungkin tidak penting tapi aku perlu tau” , dia memandang jauh ke dalam mataku. Seakan berusaha mencari jawaban disana.
“Aku masih sendiri. Dan sampai saat ini tak pernah terpikir olehku untuk mencari penggantimu”
“Yaa Tuhan .. Kenapa kamu masih saja sama. Keras kepala ! . Aku pernah bilang padamu bukan , carilah kebahagiaanmu sendiri meskipun tak bersamaku. Kenapa kamu masih diam ketika kehidupan terus berjalan maju?”
“Kamu pikir akan semudah itu. Aku kehilangan separuh hidupku karna keputusanmu untuk pergi. Demi menyembuhkan diriku sendiri saja aku belum mampu. Apalagi untuk mencari penggantimu. Aku belum memikirkan itu”
“Kamu menyiksa dirimu sendiri. Aku bahagia dan aku juga menginginkan kamu bahagia. Kita bahagia bersama meskipun bukan dalam labirin yang satu arah”
“Biarkan aku menikmati masa – masa seperti ini. Biarkan aku tepati janjiku padamu. Menunggu .. “
“Tak perlu seperti itu. Kamu lihat aku , aku bisa melanjutkan hidupku. Menemukan orang – orang baru yang bisa melengkapiku. Aku bahagia. Tidakkah kamu juga akan sepertiku? . Demi Tuhan , aku turut bahagia jika melihatmu bahagia”
“Ingat untuk apa kamu memutuskanku? . Karna jalan pikiran kita tak pernah sama. Itu kamu , lakukan saja apa yang membuatmu bahagia. Kamu sudah tak mencintaiku lagi , akan sangat mudah untukmu menemukan penggantiku. Sementara aku masih mencintaimu , tak pernahkah kamu bayangkan akan sangat sulit bagiku menemukan orang lain yang bisa menggantikan posisimu. Mungkin kamu satu – satu nya , aku merasa tak pernah menemukan lagi orang sepertimu”
“Karna kamu tak pernah mencarinya. Kamu menutup dirimu. Kamu orang dengan banyak kelebihan. Mana mungkin tak ada laki – laki yang ingin memilikimu?”
“Aku dekat dnegan banyak laki – laki. Nyatanya aku tak menemukan keseriusan dengan mereka. Lebih baik menunggu yang terbaik dari pada mencoba – coba. Sungguh , aku nyaman menunggumu dalam kehampaan dibandingkan aku harus terpaksa bahagia dengan orang yang tak kucintai”
“Untuk apa kamu menungguku? Aku tak akan kembali padamu. Dengan alasan
apapun ..”
“Atas jaminan apa kamu bicara seperti itu? Aku meminta pada Tuhan setiap hari. Memohonmu kembali .. Doa yang kita panjatkan adalah jalan menuju keajaiban. Aku percaya Tuhan mendengar doaku , dan suatu saat Dia akan mengabulkannya”
Dia diam. Tak bisakah dia membaca keyakinanku , keseriusanku padanya? Bahkan setelah dia begitu menyakitiku , aku masih dengan setia menunggunya.
“Tidak lelahkah kamu dengan hal seperti ini? Kamu menunggu tanpa sebuah kepastian apa – apa? Tanpa jaminan apa – apa dariku”
“Tuhan telah mengajariku banyak hal. Bernafas dalam ketidakpastian. Bersabar dalam kehampaan. Mencintai tanpa balasan dan memberi tanpa meminta. Itu yang bisa membuatku bertahan hingga hari ini. Bertahan meskipun dalam kesakitan”
“Aku menyesal kenapa tak bisa terus mencintaimu. Sejauh ini , setelah aku mencari dan menemukan orang – orang baru , aku belum menemukan yang sepertimu. Ketulusanmu itu luar biasa”
Akhirnya dia menyadari itu. Aku juga merasakan hal yang sama sayang. Aku tak pernah setulus ini dengan orang lain. Aku belum pernah mencintai sedalam ini ..
“Lalu?”
“Hanya saja aku tetap tak bisa kembali padamu”
Pramusaji datang membawa makanan yang telah ku pesan. Selanjutnya , kami hanya makan dalam diam. Kesunyian ini begitu hening. Aku dan dia mungkinkah tak bisa dipersatukan lagi?
Aku percaya padaMu Tuhan. Engkau yang paling tau seberapa besar aku menginginkan dia. Kumohon kembalikan dia .. Dan aku berjanji akan menjaganya baik – baik. Tak akan mengecewakannya lagi ..
16 Desember 2011 ^^ 11.38
:) Dunia Dalam Aksara - YanisNP (:

ijin share untuk inspirasi....!
BalasHapusOke .. :)
Hapus