Kamis, 02 Februari 2012

.:. Hubungan Ini Bukan Hanya Milik Kita Berdua .:.

Aku melihat bangunan itu lagi. Sebuah bagunan yang tidak terlalu besar tapi juga bukan sebuah bangunan mungil. Terlihat sederhana dan menyenangkan. Suasana hangat yang terasa masih sama ketika aku biasa berkunjung kesini setiap hari. Dulu ..

Iyya , sudah dulu sekali. Mungkin dua tahun yang lalu. Terakhir kali aku meninggalkan bangunan ini dengan banyak air mata. Dengan rasa kecewa yang meluap-luap. Dengan sebuah tekad bahwa aku tak akan kembali lagi kesini dengan alasan apapun. Tapi nyatanya hari ini aku kembali. Membawa sebuah rindu yang selama dua tahun ini berhasil kusimpan dalam bejana waktu.

Aku berdiri di depan pagar hitam itu. Pagar yang catnya masih sama. Bahkan tata letak bunga-bunga dan sebuah kandang kelinci dihalamannya pun masih sama persis seperti dulu. Yang berbeda hanya aku. Dulu aku datang kesini sebagai seseorang yang mempunyai status , sebagai aku yang mempunyai ikatan dengan orang-orang penghuni bangunan rumah ini. Tapi hari ini aku datang kesini bukan sebagai apa-apa. Aku hanya menjadi orang lain yang tak kuasa menahan rindu. Entah itu bisa diterima atau tidak ..

“Assalamualaikum” , ada desiran kuat dalam hatiku. Apa yang akan terjadi setelah ini?

“Waalaikumsalam” , sahutan itu terlalu cepat. Aku belum siap ..

Seorang wanita berusia sekitar 50an keluar dari balik pintu. Dia menggenakan baju yang juga sering dia pakai dua tahun lalu. “Ini baju keberuntungan” , itu kalimat pembelaan yang pernah dia ucapkan.

“Tante .... ” , panggilan itu terasa hambar. Dulu aku tak memanggilnya begitu. Dulu aku memanggilnya mama ..

“Novi? Yaa Tuhan .. Mama kengen kamu sayang. Kenapa lama sekali kamu tidak kemari?” , ada yang mengambang dipelupuk mataku. Mataku basah , tapi aku sedang tidak ingin menangis sekarang.

Dengan cekatan Mama Suci membukakan pagar untukku dan kemudian menarikku dalam pelukannya.

“Maafkan Novi Tante. Mungkin akan terlihat kurang sopan kalau Novi main kesini sementara Novi sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Ganda” , bibirku bergetar mengucapkan itu. Perih dua tahun lalu terasa lagi. Luka yang telah sedikit sembuh kini berdarah lagi.


“Maafkan aku. Benar-benar nggak bisa dipertahankan lagi” , kamu mengenggam jari-jariku. Menatap jauh kedalam bola mataku. Mungkin berusaha mencari ketegaran disana.

“Apa maksudmu? Putus?” , air mata yang berusaha kutahan akhirnya menetes juga.

“Seperti itu. Aku merasa berhenti mencintaimu. Tak lagi sebesar dulu. Hampa .. Sungguh , maafkan aku”

“Tapi pertunangan kita? Kamu gila ! Apa yang akan kukatakan pada mama-papa? Mereka akan sangat malu. Kumohon , jangan egois ! Hubungan ini bukan hanya antara aku dan kamu. Tapi juga keluarga kita ... “ , kecewa yang sungguh tak bisa kuungkapkan.

Hubungan kami berjalan selama 5 tahun. Dan 7 bulan lalu kami memutuskan untuk bertunangan. Tentu dengan banyak cinta yang kami miliki. Juga sebuah keyakinan untuk membawa cinta kami menjadi lebih abadi. Kamu gila !

Kamu memelukku. Lama ... Aku tau kamu tak menemukan alasan yang paling tepat. Masalahnya hanya ada pada keegoisanmu !


“Lakukan saja apa yang menurutmu benar. Terima kasih untuk banyak hal berharga darimu. Dan maafkan aku jika diriku yang sekarang membuatmu tak merasakan cinta yang sama lagi. Maafkan aku .. Sampaikan salamku untuk semua keluargamu. Aku mencintai mereka sebesar aku mencintaimu” ,  aku melepas cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin yang kukira bisa mengikat kami selamanya. 

Dengan rasa sakit luar biasa aku meninggalkan rumah berpagar hitam itu. Dan bertekad tak akan kembali lagi. Aku tak mau melihatmu lagi. Melihat keluargamu. Melihat orang-orang yang sempat menjadi milikku tapi kini hanya menjadi masa lalu.

Selama satu minggu setelah itu Mama Suci sering sekali menelpon ku. Berkali-kali meminta maaf untuk kebodohanmu meninggalkanku.

“Maafkan Ganda. Mama mohon maafkan Ganda. Mama nggak tau apa yang dia inginkan. Bodoh sekali dia melakukan ini padamu. Tolong sayang , datang ke rumah dan kita bicarakan semuanya” , aku tau Mama Suci sedang berlinang air mata di sebrang telepon sana. Tapi aku harus apa? Lebih baik seperti ini , daripada aku harus meneruskan pertunangan dengan seseorang yang tak lagi mencintaiku. Memaksakan kebahagiaan yang tak seharusnya terjadi.

“Maafkan Novi ,  Ma. Untuk saat ini Novi hanya ingin sendiri. Setelah semuanya lebih baik Novi akan datang ke rumah. Novi janji”


Dan aku menepati janjiku. Hari ini aku datang ke rumah ini lagi. Butuh dua tahun untuk merasa sedikit lebih baik. Setelah begitu banyak air mata , hari ini aku berusaha mencari ketegaranku. Aku sungguh merindukan banyak hal yang dulu kutinggalkan tanpa kata-kata perpisahan. Merindukan kehangatan rumah keduaku , dulu ...

“Maafkan Ganda , Novi. Untuk kesekian kalinya Mama minta maaf. Mama tau dia begitu menyakitimu. Hanya saja Mama nggak bisa memaksakan pilihan hidupnya”

“Ini bukan kesalahan Tante. Bukan juga kesalahan Ganda. Ini hanya cara Tuhan memperjelas pada kita semua bahwa Novi bukan tulang rusuk yang diciptakan untuk Ganda. Novi ikhlas”

“Dia begitu bodoh meninggalkan perempuan luar biasa sepertimu. Sekarang dia berpacaran dengan perempuan sombong. Mama nggak suka dengan pacar barunya itu”

Bahkan dia telah berhasil menemukan penggantiku sebelum aku benar-benar sembuh dari luka yang disebabkannya.

“Biarkan Ganda memilih kebahagiaannya sendiri , Tante” , aku tersenyum hambar. Entah tersenyum untuk apa. Mungkin aku hanya ingin membahagiaan diriku sendiri.

Tuhan , jika benar aku bukan tulang rusuk yang Kau ciptakan untuknya ijinkan aku ikut bahagia dalam kebahagiaannya.


 01 Februari 2012 ^^ 23.15
:) Dunia Dalam Aksara – YanisNP (:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peduli - DuniaDalamAksara