Rabu, 01 Februari 2012

.:. Pertemuan Singkat .:.


“Menjadi cinta sejatimu itu impianku saat ini. Lebih dari impian hebat apa pun. Aku hanya ingin itu”

Dia mengenggam tanganku. Menatap jauh ke dalam mataku. Aku tau dia mencari kejujuran disana. Dia berusaha mencerna kata-kata ku. Menggabungkannya dalam kebahagiaan yang tengah meluap-luap dihatinya. Aku tau , dia sangat menikmati saat-saat seperti ini. Saat dimana kami bisa saling merasakan kasih sayang itu. Dimana kami saling menautkan hati yang tengah saling berjanji. Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Apa ada yang lebih indah dari itu ?

“Kamu segalanya untukku. Dan itu tidak berlebihan ! Setelah ini aku akan kuliah , berkerja dengan ilmu yang kupunya dan setelah itu aku akan melamarmu. Tunggu aku .. “ , aku tau kata-kata itu tulus dan benar. Dia mengucapkannya dengan genggaman yang semakin erat ditangan ku. Menyentuh langsung tepat dihatiku.

“Tentu. Aku menunggumu ...”


Percakapan itu terjadi satu tahun lalu. Ketika Tuhan masih mengijinkan kita menikmati sulur-sulur bahagia itu. Ada sebuah ikatan yang menyatukan aku dan dia. Mempertahankan kami bukan hanya dalam bahagia tapi juga dalam duka semencekam apa pun. Saat dia masih mengenggam tanganku ketika ada ruang yang kekurangan cahaya dalam hari-hariku. Dan aku masih bisa memeluknya ketika rasa takut mulai menjajahnya. Kami masih bisa saling menguatkan kala itu ...
Kini .. aku sendiri. Tanpa dia yang berjanji akan melamarku setelah menyelesaikan kuliah dan berkerja dengan ilmu yang dia punya. Aku hanya berteman dengan bait-bait kenangannya yang masih tersisa begitu dekat denganku. Bersahabat dengan waktu , berharap semua ini akan berjalan cepat dan tak menyakitiku lebih gila lagi dari ini. Ada yang hampa , kehilangan dan kosong. Bukan hanya sekedar gelap , suasana ini pekat. Demi apa pun , aku ingin keluar dari ruangan ini. Sebuah ruangan tanpa kamu. Tanpa cintamu yang meluap-luap. Hanya ada janji-janji tanpa penghuni itu , janji-janji yang pernah terucap namun tak sempat ditepati.  Aku rapuh , sangat rapuh. Sedikit saja kenanganmu menyentuhku , aku hancur ! Bukan sekedar hancur , aku akan menjadi serpihan.

Malam ini , ada yang mengambang dipelupuk mataku. Sebuah jeritan teredam menggema di telingaku. Dan rasa perih itu benar nyata sedang merajai hatiku.

Aku melihatmu. Hanya beberapa meter didepanku. Seharusnya aku bahagia? Seteleh dalam hitungan tahun aku kehilangan sosok rupawanmu. Harusnya aku bisa tersenyum sebahagia dulu , ketika segalanya tentangmu masih ada dan menjadi milikku. Hanya saja ini sedikit diluar skenarioku.

Jelas kamu sedang tak sendirian disana. Seorang perempuan bersamamu. Dia mengenggam tanganmu seperti aku melakukannya dulu , bahkan terlihat lebih hangat. Kamu menatap matanya dalam seperti yang selalu kamu lakukan padaku dulu  dan terlihat lebih penuh cinta.

Aku cemburu ...

Tapi untuk apa aku cemburu? Dengan hak apa aku bisa cemburu pada perempuan cina itu?
Ohh Tuhan , bahkan kamu tidak menghormati prinsipmu sendiri. “Aku bukan pecinta perempuan cina. Barang cina itu murahan” , kamu pernah mengatakan itu didepanku. Dengan tertawa lepas dan merangkulkan lenganmu dipundakku.

Aku tak mampu menjelaskan sehancur apa aku sekarang.
Lalu , entah keberanian dari dimensi apa yang merasukiku. Aku berjalan langkah demi langkah semakin dekat ke arahmu. Dan ..

“Heeii ! Sedang apa kamu disini?” , kamu melihatku lebih dulu dan menyapaku lebih dulu. Ketika bahkan aku belum siap menatap sinar teduh dimata indahmu itu.

“Emm , aku hanya jalan-jalan. Berniat menunggu seseorang tapi sepertinya dia kurang enak badan dan membatalkan datang kesini” , aku mencomot alasan apa pun yang sedang melintas di otakku.

Tak taukah kamu yang sejujurnya? Disini aku sedang memunguti kenangan kami yang berserakan. Tempat ini pernah menjadi saksi keindahan cintaku dan kamu. Ada banyak siluet bayanganmu disini. Aku bisa melihatmu disetiap sudutnya. Bahkan parahnya , aku bisa merasakan udara kasih sayangmu ditempat ini. Nyata dan jelas .. Sementara kamu membawa perempuan lain kesini. Dimana seharusnya kamu begitu mengingatku ketika duduk dikursi-kursi kayunya. Bukannya membuat kenangan baru bersama perempuanmu yang baru.

“Lalu? Apa kamu mau pulang?”

“Mungkin” , aku berusaha tersenyum dan aku tau kamu menyadari senyum itu terlalu dipaksakan.

“Apa kamu tak mau bergabung sejenak dengan kami. Menikmati tempat ini ..” , apa itu sebuah sindiran? Dia mengajakku bergabung. Berada dalam satu meja dengan seorang ‘saingan’. Di sebuah tempat kenangan dimana seharusnya hanya ada aku dan kamu. Berdua. Emm , mungkin tidak hanya berdua .. aku , kamu dan cinta. Kita bertiga. Kenapa kamu begitu tidak peka dengan apa yang sedang terjadi padaku saat ini.

“Mungkin lain kali. Aku sedang ingin cepat pulang”

“Emm , baiklah. Hati-hati di jalan dan sampai bertemu lagi” , dia melambaikan tangan. Dan aku merasa itu sebuah lambaian mengusir untukku.

“Baiklah , selamat malam” , aku tersenyum padanya dan tentu saja pada ‘saingan’ itu sebelum pergi dengan langkah cepat karna kau tak mau dia melihatku menangis.

Sebuah pertemuan singkat tapi begitu luar biasa. Luar biasa menyakitkan ...

Tuhan , kau membuatku mencintainya dengan sederhana. Kau membuatnya pergi dariku juga dengan sederhana. Hari ini kau menciptakan sebuah pertemuan antara aku dan masa lalu dengan demikian sederhana. Tapi , kenapa Kau tak membiarkanku melupakannya dengan sederhana??

31 Januari 2012 ^^ 23.59
:) Dunia Dalam Aksara – YanisNP (:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peduli - DuniaDalamAksara