Rabu, 01 Februari 2012

.:. Aku , Dia , dan Kenangannya .:.

Entah hubungan seperti apa yang sedang terjadi diantara kami. Tanpa perkataan , tanpa ikatan , tanpa status , tapi jelas hubungan ini punya sebuah cinta. Setiap bersamanya aku bisa meraba benang-benang transparan yang saling menyatukan hati kami. Hanya saja mungkin dia tak menyadari itu. Kurang peka dengan apa yang kurasakan padanya. Aku kurang pintar menebak , aku kesulitan mengukur sejauh apa dia menganggapku. Dia sering merasa membutuhkanku , itu jelas terlihat. Tapi untuk cinta , sepertinya aku belum mendapatkan itu darinya.
Siang ini hujan. Aku berteduh dihatinya (emm , itu kesalahan pengetikan). Aku berteduh dibawah jembatan bersamanya (ini yang benar). Ini rutinitas kami setiap hari. Meninggalkan kampus dan pulang bersama. Dia melipat tangannya didepan dada. Mungkin kedinginan. Meskipun ini Surabaya tapi ketika hujan mengguyur deras seperti ini kadang udara dingin datang dengan agak berlebihan.
“Dingin yaa?” , sebuah perhatian kecil yang biasa kulakukan untuknya.
“Lumayan. Kamu nggak dingin?”
“Nggak kok” , aku tersenyum.
“Hujan itu identik dengan masa lalu yaa? Selalu begitu. Itu juga alasannya kenapa aku benci hujan” , dia membuka sebuah perdebatan denganku. Kenapa aku menyebutnya perdebatan? Karna dia sudah terlalu sering membahas ini. Masa lalunya .. Mantannya .. Kenangan-kenangannya .. Dan aku membenci itu. Sama seperti dia membenci hujan. Kenapa dia masih tersesat dalam masa lalu ketika aku sudah begitu siap menjadi masa depannya?
“Bukan kesalahan hujan. Tapi kesalahan sugesti. Kamu mensugesti diri kamu seperti itu. Hujan identik dengan masa lalu dan kamu benci hujan. Berhenti menghipnotis dirimu sendiri!”


Dia tertawa kecil. Entah mentertawakan siapa. Aku tau apa yang kubilang barusan tak semudah apa yang sedang dia alami. Tiga tahun dia menjadi fanatik masa lalu. Semua hal yang dia lakukan selalu berdasar pada masa lalu. Mantanya itu , begitu berharga baginya. Aku tak pernah tau dia perempuan seperti apa. Yang aku tau , aku mencintai seseorang yang masih begitu mencintai mantan pacarnya. Bukan timbal balik yang bagus bukan?
Satu minggu yang lalu mantan pacarnya itu bertunangan dengan laki-laki lain. Aku tau dia sangat terpukul. Namun begitu , aku bersyukur dia sudah tampak lebih baik hari ini. Meskipun masih melihat sinar putus asa dimatanya. Tapi setidaknya dia bukan korban bunuh diri seperti yang banyak terjadi di media massa saat ini. Bunuh diri karna patah hati. Aku bersyukur untuk itu.
Dia luar biasa! Bertahan dalam masa hampa selama hitungan tahun. Aku belum pernah menemukan orang lain yang lebih tegar dari dia. Dia masih bisa tertawa setiap harinya meskipun aku tau dia sedang menyimpan duka. Dia masih bisa terlihat bahagia sementara aku tau ada sisa luka yang belum sembuh dihatinya. Dia bukan munafik , hanya begitu cerdas menyembunyikan air mata dalam sebuah senyuman.
Tiba-tiba nada dering handphonenya berbunyi. Tidak terdengar begitu keras karna teredam suara hujan yang semakin deras. Dia menjawab sebuah panggilan ...
Selama dia berbicara dengan seseorang yang entah siapa itu , aku melihat banyak isyarat dimatanya. Marah , kecewa , bahkan mungkin aku melihat ada air mata menggenang disana. Dia hanya menjawab dengan singkat beberapa pertanyaan yang mungkin dipertanyakan oleh si penelpon. Aku kurang paham apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi aku tau ada yang sedang berjalan tidak baik ...
Lima menit kemudian dia mengakhiri pembicaraan, “Ada apa?” , aku tak bisa menahan pertanyaan itu lebih lama lagi.
“Tunangan mantanku” , singkat dan datar tapi cukup membuatku terlonjak.
“Untuk apa dia menelponmu? Apa dia mengundangmu makan malam?” , aku berusaha bercanda tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat.
“Aku sudah cukup ikhlas dia bertungan dengan Nessa (itu nama mantannya). Bukan hal mudah aku bisa merelakan ini. Tapi dia mengungkitnya lagi”
Aku melihat kecewa itu dengan begitu jelas. Nyaris terlihat seperti frustasi. Ya Tuhan , cobaan apa yang tengah Kau berikan untuknya? Aku mencintainya , sedikit-banyak aku bisa merasakan apa yang tengah dia rasakan.
“Dia marah padamu?” , sepertinya itu sebuah tebakan tepat. Karna dia mengangguk , meskipun begitu lemah.
“Dia memintaku untuk tidak menghubungi Nessa lagi. Sebelum mereka bertunangan aku dan Nessa memang masih berhubungan. Tapi setelah aku tau mereka telah saling mengikat , aku tak pernah menghubunginya lagi”
Bahkan dia masih berhubungan dengan Nessa mantannya. Itu kesalahanmu! Tiba-tiba aku menyalahkannya. Entah ...
Aku terdiam , lumayan lama. Memikirkan kata-kata yang paling tepat untuk kusampaikan padanya dalam suasana seperti ini. “Entah. Aku tak tau harus bilang apa padamu. Aku hanya bisa membantumu melewati ini dengan lebih cepat. Meskipun belum terpikirkan olehku dengan cara seperti apa aku harus menghiburmu”
Dia tersenyum dan mengelus rambutku pelan. “Terima kasih. Untuk semua kehadiranmu disampingku. Tanpamu , aku sendirian. Tanpamu , aku mungkin akan terpuruk lebih dalam dari ini. Cukup selalu ada untukku , itu sudah sangat mengibur. Terima kasih”
Sedang berhadapan dengan makhluk apa aku saat ini? Dia begitu tegar disaat seharusnya bunuh diri itu menjadi sesuatu yang wajar dia lakukan saat ini (itu bukan sebuah bahasan yang bagus). Demi Tuhan , kesabarannya itu luar biasa! Sungguh tidak beruntung Nessa melepaskan orang seperti dia dan memilih bertunangan dengan laki-laki yang berani mencacimaki seorang malaikat yang sedang berdiri disampingku ini.
Aku menggengam tangannya , berharap bisa menyalurkan kekuatan lewat genggaman itu. “Sedih boleh , nangis boleh , kepikiran boleh , emosi juga boleh , tapi cukup untuk hari ini. Janji yaa , besok semuanya sudah akan berjalan baik-baik ajja seperti ketika semua ini belum terjadi”
Dia tersenyum. Kali ini senyuman tulus , bukan sebuah senyuman yang dipaksa. Lalu dia menatap jauh ke arah langit. Mungkin setelah ini dia akan semakin membenci hujan. Dan aku janji tak akan menyalahkannya untuk itu. Biarkan dia menikmati masa lalunya sejenak sebelum dia benar-benar sadar bahwa masa lalunya itu sudah terlalu jauh meninggalkannya.

31 Januari 2012 ^^ 23.00
:) Dunia Dalam Aksara – YanisNP (:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peduli - DuniaDalamAksara