Selasa, 01 Januari 2013

.:. Dear Matahariku .:.


Dear matahariku :)

Bagaimana kabarmu? Kabar hatimu?

Aku rindu. Banyak sekali yang kurindukan darimu. Senyum teduhmu. Tatapan tajammu. Ketegasan genggamanmu. Cahaya terangmu disetiap gelapku. Tapi aku paling merindukan perhatianmu yang tak pernah nyata itu.

Matahari, aku rindu saat saat dimana aku bisa mencintaimu sedalam dulu. Memunguti satu demi satu hal hal yang berkaitan tentangmu. Memaksakan hatimu dan hatiku bersatu dalam ikatan yang utuh.

Aku rindu berlari kencang mengejar sosokmu yang menjauh dan hampir hilang dari pandangan. Lalu kemudian berhenti kelelahan dan duduk diam sampai akhirnya kamu kembali padaku dalam nyata yang masih semu.

Apa yang kita lakukan dulu memang lucu. Emm, mungkin bukan kita, hanya aku. Hanya aku yang begitu menginginkanmu meskipun kamu dengan tegas berkata lewat sikapmu Tidak usah berharap lebih padaku!. Hanya aku yang masih saja dengan senang hati menangkap perhatian kecilmu yang kuartikan besar, sangat besar, meskipun kamu dengan jelas pernah menamparku dengan kalimatmu Aku nyaman hanya menjadi temanmu. Tidak usah memintaku menjadi lebih dari itu

Matahariku, bagaimana kabarmu? Kabar hatimu?

Aku tidak pernah merasa sehampa ini. Entah sejak kapan tiba-tiba semuanya berhenti. Tidak ada lagi keinginan memiliki yang meluap-luap itu. Tidak ada lagi gelombang ketertarikan yang maha dahsyat itu. Tidak ada lagi lagu dan puisi puisi yang kutulis dalam bingkai tawa dan air mata untukmu. Hilang. Selesai. Cinta itu mati rasa. Dia kehilangan eksistensinya.

Aku lupa sejak kapan ...

Mungkin sejak semuanya tidak lagi serupa kabut, semakin jelas. Sejak harapan-harapan itu bukan lagi sebuah siluet palsu yang coba menipu. Sejak aku melihat ketegasan paling tegas dimatamu yang berbicara bahkan nyaris berteriak dan tepat menyentuh kehangatan cintaku yang masih begitu bersemangat menunggu balasan darimu Aku mohon berhentilah mengharapkan seseorang yang tidak pernah menginginkanmu. Cinta itu harga diri. Mungkin ketika kamu berhenti dan pergi saat itu aku akan merubah haluan hatiku untuk berbalik mengejarmu. Saat ini aku tidak pernah sedikitpun merindukanmu. Tidak pernah ada percikan rasa cinta di hatiku. Dan kurasa kamu paham tentang itu? Lalu untuk apa kamu bertahan, menunggu, bahkan terkesan memaksa untuk bisa memilikiku?

Aku masih sering mendengar ucapmu itu di setiap malam malam panjang penuh air mata. Kadang bahkan terdengar ditengah hiruk pikuk keramaian. Begitu menyakiti, begitu menyadarkan, begitu benar!

Bertahun tahun lalu ...

Tapi hingga kini cinta itu mati rasa. Belum ada yang sehebat dirimu menarik perhatianku, mempesona pandanganku, dan memeluk hatiku dalam ketidakpastian. Belum kutemukan lagi cinta seluar biasa kamu matahariku ...

Bagaimana kabarmu? Kabar katimu?

Masihkah sebeku dulu?

Aku telah memaksa cinta itu berhenti. Dan aku telah menuntut diriku untuk pergi. Tapi setelah semua lewat bertahun-tahun lalu .... kamu belum juga merubah haluan hatimu untuk berbalik mengejarku.

01 Januari 2012 – 19.29
Dunia Dalam Aksara - YanisNP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peduli - DuniaDalamAksara