Dear matahariku :)
Bagaimana kabarmu? Kabar hatimu?
Aku rindu. Banyak sekali yang kurindukan darimu.
Senyum teduhmu. Tatapan tajammu. Ketegasan genggamanmu. Cahaya terangmu
disetiap gelapku. Tapi aku paling merindukan perhatianmu yang tak pernah nyata
itu.
Matahari, aku rindu saat saat dimana aku bisa mencintaimu
sedalam dulu. Memunguti satu demi satu hal hal yang berkaitan tentangmu.
Memaksakan hatimu dan hatiku bersatu dalam ikatan yang utuh.
Aku rindu berlari kencang mengejar sosokmu yang
menjauh dan hampir hilang dari pandangan. Lalu kemudian berhenti kelelahan dan
duduk diam sampai akhirnya kamu kembali padaku dalam nyata yang masih semu.
Apa yang kita lakukan dulu memang lucu. Emm, mungkin
bukan kita, hanya aku. Hanya aku yang begitu menginginkanmu meskipun kamu
dengan tegas berkata lewat sikapmu “Tidak
usah berharap lebih padaku!”. Hanya aku yang
masih saja dengan senang hati menangkap perhatian kecilmu yang kuartikan besar,
sangat besar, meskipun kamu dengan jelas pernah menamparku dengan kalimatmu “Aku
nyaman ‘hanya’
menjadi temanmu. Tidak usah memintaku menjadi lebih dari itu”
Matahariku, bagaimana kabarmu? Kabar hatimu?
Aku tidak pernah merasa sehampa ini. Entah sejak kapan
tiba-tiba semuanya berhenti. Tidak ada lagi keinginan memiliki yang meluap-luap
itu. Tidak ada lagi gelombang ketertarikan yang maha dahsyat itu. Tidak ada
lagi lagu dan puisi puisi yang kutulis dalam bingkai tawa dan air mata untukmu.
Hilang. Selesai. Cinta itu mati rasa. Dia kehilangan eksistensinya.
Aku lupa sejak kapan ...
Mungkin sejak semuanya tidak lagi serupa kabut,
semakin jelas. Sejak harapan-harapan itu bukan lagi sebuah siluet palsu yang
coba menipu. Sejak aku melihat ketegasan paling tegas dimatamu yang berbicara bahkan
nyaris berteriak dan tepat menyentuh kehangatan cintaku yang masih begitu
bersemangat menunggu balasan darimu “Aku
mohon berhentilah mengharapkan seseorang yang tidak pernah menginginkanmu.
Cinta itu harga diri. Mungkin ketika kamu berhenti dan pergi saat itu aku akan
merubah haluan hatiku untuk berbalik mengejarmu. Saat ini aku tidak pernah
sedikitpun merindukanmu. Tidak pernah ada percikan rasa cinta di hatiku. Dan
kurasa kamu paham tentang itu? Lalu untuk apa kamu bertahan, menunggu, bahkan
terkesan memaksa untuk bisa memilikiku?”
Aku masih sering mendengar ucapmu itu di setiap malam
malam panjang penuh air mata. Kadang bahkan terdengar ditengah hiruk pikuk
keramaian. Begitu menyakiti, begitu menyadarkan, begitu benar!
Bertahun tahun lalu ...
Tapi hingga kini cinta itu mati rasa. Belum ada yang
sehebat dirimu menarik perhatianku, mempesona pandanganku, dan memeluk hatiku
dalam ketidakpastian. Belum kutemukan lagi cinta seluar biasa kamu matahariku
...
Bagaimana kabarmu? Kabar katimu?
Masihkah sebeku dulu?
Aku telah memaksa cinta itu berhenti. Dan aku telah
menuntut diriku untuk pergi. Tapi setelah semua lewat bertahun-tahun lalu ....
kamu belum juga merubah haluan hatimu untuk berbalik mengejarku.
01
Januari 2012 – 19.29
Dunia
Dalam Aksara - YanisNP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Peduli - DuniaDalamAksara