AKU
MENCINTAIMU BUKAN HANYA UNTUK HARI DIMANA KETIKA KAMU MASIH MEMPUNYAI
SEGALANYA. TAPI AKU MENCINTAIMU BAHKAN KETIKA KAMU ADA DALAM KONDISI
TERBURUKMU.
AKU MENCINTAIMU DENGAN ATAU TANPA PENYAKIT BODOH ITU !!
Aku ingat pernah mengucapkan itu di depanmu. Dengan lantang, dengan
tegas, dengan penuh harapan. Dengan mata berkaca-kaca dan hati tersayat penuh
luka. Bukan sekedar luka patah hati yang dialami remaja-remaja labil karena
harus putus hubungan saat masih begitu mencintai kekasihnya. Ini luka yang
nyata bercampur dengan kecewa, menyatu dengan lelah, melebur dalam ketidak
mampuan mengambil keputusan.
~~
“Maafkan aku, Putri. Mungkin kamu tak pernah merasakan bagaimana
hubungan kita berjalan diatas rasa tertekan. Aku tidak lagi merasakan
kesederhanaan yang damai seperti dulu. Aku merasa ... ini membebanimu”
Aku hanya menatap jauh kedalam matanya, kecewa, nyaris tidak percaya
dengan sederet kalimat yang diucapkannya cukup jelas barusan. Dia mengakhiri
hubungan yang mati-matian kami pertahankan 3 tahun terakhir ini hanya karena
dia tak mau membebaniku dengan kekurangannya.
“Sedangkal itu cintamu?”, hanya itu yang bisa kupertanyakan. Bibirku
kaku, tidak ada kalimat panjang lebar meskipun ada begitu pertanyaan yang
menuntut jawaban.
“Kamu tau sedalam apa aku mencintaimu. Aku begitu ingin melihatmu
bahagia dengan orang yang pantas, Putri”
Dia bodoh! Dia tau separuh hatiku atau bahkan mungkin semuanya telah
terpatri erat pada hatinya. Apapun alasan untuk keputusannya itu akan membawaku
hilang, pergi, ikut bersama keinginan bodohnya. Aku tidak akan lagi utuh.
Akan kuceritakan ..
Kami menjalani hubungan ini dengan tidak mudah. Ada banyak, berkali
kali, air mata yang mengalir hanya karena satu alasan yang selalu sama. Ini
bukan air mata kecewa, bukan air mata cemburu atau bahkan air mata kebencian.
Bukan! Ini air mata ketakutan ..
Aku sering menghabiskan malam-malam panjang hanya untuk duduk diam
menghadap kiblat, memanjatkan doa, menyebut namanya disetiap bait
kalimat-kalimat nyaris putus asa yang kukirim untuk Tuhan. Aku tidak pernah
lupa sedetik pun pada ketakutakanku itu, ketakutan yang makin hari semakin
nyata .. takut kehilangannya.
Dia sakit ..
Sebuah penyakit jantung yang cukup parah. Kapan
pun tangan Tuhan menyentuhnya aku harus siap, dia pergi .. selamanya.
Sudah kubilang ini bukan cerita anak remaja labil yang menangis di
malam-malam sunyi hanya untuk mengenang segala macam hal tentang mantannya. Ini
lebih rumit .. Lawan mainkku bukan hanya sekedar kenangan indah dengan mantan
atau sakit hati yang tidak kunjung sembuh. Tapi aku tengah bermain langsung
dengan cinta, penyakit itu, dan Tuhan. Iya, lawan mainku memang sesulit itu.
Setiap hari aku coba berdebat dengan Tuhan, memohonNya mengerti bahwa
aku tidak akan sanggup kehilangannya apalagi mengikhlaskannya pergi. MemintaNya
untuk memberikan waktu lebih banyak untukku menemani belahan jiwaku melawan
penyakitnya. Tapi, siapa yang bisa menjamin rencana Tuhan? Aku lelah, aku putus
asa ....
“Putri, penyakit ini tidak akan berkompromi lebih lama lagi. Dia bisa
mengambilku kapan saja darimu. Jadi apa bedanya jika kita melakukannya
sekarang, melakukan perpisahan itu sekarang? Semuanya akan sama, aku akan
pergi, meskipun tidak ada yang bisa memastikan kapan itu benar-benar terjadi. Kalau Tuhan mengizinkan, di lain kehidupan aku berjanji
untuk menjadi bagian dari hidupmu”
Air mataku mangalir lagi. Tuhan, kenapa
harus aku? Kenapa harus dia? Kenapa harus kita?
“Dengarkan aku! Kamu tidak pernah memintaku mendoakanmu setiap menitnya,
tapi aku melakukan itu untuk kesembuhanmu. Kamu tidak pernah memintaku
menjagamu, memastikan kamu baik baik saja, tapi aku melakukan itu demi
melihatmu tetap kuat menjalani hari-harimu. Kamu tidak
pernah memintaku bertahan sejauh ini menemanimu, tapi aku melakukannya. Aku
berharap besar padamu. Karna aku mencintaimu dengan atau tanpa penyakit bodoh
itu!”
Dia diam beberapa detik sebelum akhirnya menarikku kedalam
pelukannya. Aku menangis, bukan lagi isakkan yang tertahan, tapi tangisan lelah
dan takut yang semakin nyata. Dia juga begitu. Aku merasakan air matanya
meleleh dibahuku. Ketakutan kami sama, bahkan mungkin ketakutannya lebih besar
dariku.
“Maafkan aku. Harusnya aku tau siapa orang yang sangat mencintaku
ini. Siapa yang telah memberikan hampir seluruh waktu dan hidupnya untukku.
Harusnya aku tidak pernah meminta hal bodoh itu. Maafkan aku. Terima kasih,
Putriku”
“Tuhan tak akan berikan ujian melebihi
kemampuanmu sayang. Jangan berpikir kamu lemah, karna kamu telah kuat dari
setiap masalah yang diberikanNya”
“Terima kasih Putri, kamu membuatku
merasa memiliki hal-hal yang belum kumiliki”, kemudian dia mengecup keningku
lembut.
Ucapan-ucapan sederhana dan pelukan hangat seperti saat ini yang
paling menguatkan kami untuk bertahan sejauh ini. Melawan
penyakitnya, melawan ketakutan, melawan Tuhan, dan membuat takdir kami sendiri
..
05 Januari 2013 – 15.47
Dunia Dalam Aksara - YanisNP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Peduli - DuniaDalamAksara