Sabtu, 05 Januari 2013

.:. Bagaimanapun .. Aku Mencintaimu .:.


AKU MENCINTAIMU BUKAN HANYA UNTUK HARI DIMANA KETIKA KAMU MASIH MEMPUNYAI SEGALANYA. TAPI AKU MENCINTAIMU BAHKAN KETIKA KAMU ADA DALAM KONDISI TERBURUKMU.


AKU MENCINTAIMU DENGAN ATAU TANPA PENYAKIT BODOH ITU !!
 
Aku ingat pernah mengucapkan itu di depanmu. Dengan lantang, dengan tegas, dengan penuh harapan. Dengan mata berkaca-kaca dan hati tersayat penuh luka. Bukan sekedar luka patah hati yang dialami remaja-remaja labil karena harus putus hubungan saat masih begitu mencintai kekasihnya. Ini luka yang nyata bercampur dengan kecewa, menyatu dengan lelah, melebur dalam ketidak mampuan mengambil keputusan.

~~

“Maafkan aku, Putri. Mungkin kamu tak pernah merasakan bagaimana hubungan kita berjalan diatas rasa tertekan. Aku tidak lagi merasakan kesederhanaan yang damai seperti dulu. Aku merasa ... ini membebanimu”

Aku hanya menatap jauh kedalam matanya, kecewa, nyaris tidak percaya dengan sederet kalimat yang diucapkannya cukup jelas barusan. Dia mengakhiri hubungan yang mati-matian kami pertahankan 3 tahun terakhir ini hanya karena dia tak mau membebaniku dengan kekurangannya. 

“Sedangkal itu cintamu?”, hanya itu yang bisa kupertanyakan. Bibirku kaku, tidak ada kalimat panjang lebar meskipun ada begitu pertanyaan yang menuntut jawaban. 

“Kamu tau sedalam apa aku mencintaimu. Aku begitu ingin melihatmu bahagia dengan orang yang pantas, Putri”

Dia bodoh! Dia tau separuh hatiku atau bahkan mungkin semuanya telah terpatri erat pada hatinya. Apapun alasan untuk keputusannya itu akan membawaku hilang, pergi, ikut bersama keinginan bodohnya. Aku tidak akan lagi utuh.

Akan kuceritakan ..

Kami menjalani hubungan ini dengan tidak mudah. Ada banyak, berkali kali, air mata yang mengalir hanya karena satu alasan yang selalu sama. Ini bukan air mata kecewa, bukan air mata cemburu atau bahkan air mata kebencian. Bukan! Ini air mata ketakutan ..

Aku sering menghabiskan malam-malam panjang hanya untuk duduk diam menghadap kiblat, memanjatkan doa, menyebut namanya disetiap bait kalimat-kalimat nyaris putus asa yang kukirim untuk Tuhan. Aku tidak pernah lupa sedetik pun pada ketakutakanku itu, ketakutan yang makin hari semakin nyata .. takut kehilangannya.

Dia sakit ..

Sebuah penyakit jantung yang cukup parah. Kapan pun tangan Tuhan menyentuhnya aku harus siap, dia pergi .. selamanya.

Sudah kubilang ini bukan cerita anak remaja labil yang menangis di malam-malam sunyi hanya untuk mengenang segala macam hal tentang mantannya. Ini lebih rumit .. Lawan mainkku bukan hanya sekedar kenangan indah dengan mantan atau sakit hati yang tidak kunjung sembuh. Tapi aku tengah bermain langsung dengan cinta, penyakit itu, dan Tuhan. Iya, lawan mainku memang sesulit itu. 

Setiap hari aku coba berdebat dengan Tuhan, memohonNya mengerti bahwa aku tidak akan sanggup kehilangannya apalagi mengikhlaskannya pergi. MemintaNya untuk memberikan waktu lebih banyak untukku menemani belahan jiwaku melawan penyakitnya. Tapi, siapa yang bisa menjamin rencana Tuhan? Aku lelah, aku putus asa ....

“Putri, penyakit ini tidak akan berkompromi lebih lama lagi. Dia bisa mengambilku kapan saja darimu. Jadi apa bedanya jika kita melakukannya sekarang, melakukan perpisahan itu sekarang? Semuanya akan sama, aku akan pergi, meskipun tidak ada yang bisa memastikan kapan itu benar-benar terjadi. Kalau Tuhan mengizinkan, di lain kehidupan aku berjanji untuk menjadi bagian dari hidupmu”

Air mataku mangalir lagi. Tuhan, kenapa harus aku? Kenapa harus dia? Kenapa harus kita?

“Dengarkan aku! Kamu tidak pernah memintaku mendoakanmu setiap menitnya, tapi aku melakukan itu untuk kesembuhanmu. Kamu tidak pernah memintaku menjagamu, memastikan kamu baik baik saja, tapi aku melakukan itu demi melihatmu tetap kuat menjalani hari-harimu. Kamu tidak pernah memintaku bertahan sejauh ini menemanimu, tapi aku melakukannya. Aku berharap besar padamu. Karna aku mencintaimu dengan atau tanpa penyakit bodoh itu!” 

Dia diam beberapa detik sebelum akhirnya menarikku kedalam pelukannya. Aku menangis, bukan lagi isakkan yang tertahan, tapi tangisan lelah dan takut yang semakin nyata. Dia juga begitu. Aku merasakan air matanya meleleh dibahuku. Ketakutan kami sama, bahkan mungkin ketakutannya lebih besar dariku.

“Maafkan aku. Harusnya aku tau siapa orang yang sangat mencintaku ini. Siapa yang telah memberikan hampir seluruh waktu dan hidupnya untukku. Harusnya aku tidak pernah meminta hal bodoh itu. Maafkan aku. Terima kasih, Putriku”

“Tuhan tak akan berikan ujian melebihi kemampuanmu sayang. Jangan berpikir kamu lemah, karna kamu telah kuat dari setiap masalah yang diberikanNya”

“Terima kasih Putri, kamu membuatku merasa memiliki hal-hal yang belum kumiliki”, kemudian dia mengecup keningku lembut.
Ucapan-ucapan sederhana dan pelukan hangat seperti saat ini yang paling menguatkan kami untuk bertahan sejauh ini. Melawan penyakitnya, melawan ketakutan, melawan Tuhan, dan membuat takdir kami sendiri ..

05 Januari 2013 – 15.47
Dunia Dalam Aksara - YanisNP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peduli - DuniaDalamAksara