Sabtu, 05 Januari 2013

.:. Bunga Terakhir .:.


Kamu memutuskan pergi dan aku tak lagi punya kekuatan untuk memaksamu kembali ..

Aku menggengam rangkaian bunga mawar ini erat-erat. Tanganku basah, mungkin gugup.   

“Heeii, udah lama? Maaf aku terlambat”, nafasnya memburu sebelum akhirnya dia duduk disampingku. 

Ini memang aneh. Dua bulan lalu kamu memutuskan pergi. Mengakhiri hubungan yang sudah lama kita perjuangan bersama. Begitu saja meninggalkanku dengan puing-puing kenangan yang berserakan dimana-mana. Aku hancur, entah sehancur apa. Banyak sekali rasa yang hadir tapi tak tergambarkan lewat kata-kata.

Hari ini, hanya karna aku begitu rindu dengan kehangatan senyummu kita bertemu disini dalam kenyamanan yang tak lagi sama. Aku dan kamu, dua jiwa yang tak lagi terikat dalam satu kalimat. Tak ada lagi cinta yang begitu nyata terpancar diantara tatapan teduhmu. Kita, terpisah ...

“Aku cuma mau kasih ini, buat kamu”, aku memberikan serangkai mawar yang kubeli tadi pagi di toko bunga.

“Apa ini?”

“Bunga”

“Maksudku, untuk apa?”

“Cuma kenang-kenangan, mungkin kamu suka”

Kamu menatap jauh kedalam mataku, berusaha mencari kebenaran disana, “Kamu memintaku datang kesini hanya untuk mawar-mawar yang bahkan tak memiliki penjelasan ini?”

“Ada beberapa hal yang memang tak mempunyai penjelasan. Seperti takdir, dia membuatmu begitu luar biasa dalam bahagia tapi dalam satu kedipan mata dia membuatmu kehilangan segalanya. Apa ada sebuah penjelasan yang masuk akal untuk itu?”

“Apa ini masih tentang kita? Kukira setelah semuanya berakhir kamu juga akan berhasil mengakhiri semua rasa-rasamu itu”

Aku menatapnya dengan tatapan menuntut! “Kamu kira ini sekedar permainan monopoli yang akan selesai ketika salah satu memutuskan berhenti?”

“Okee. Maafkan aku! Aku tak akan memaksamu untuk melupakan semuanya semudah mengakhiri permainan monopoli, tapi berhentilah menangisi dirimu sendiri! Berhenti berusaha membuat semuanya seperti 
dulu. Itu nggak mungkin!”

“Justru itu, aku kesini untuk mempertegas padamu bahwa aku tak akan lagi menangisi diriku sendiri. Aku akan berhenti, mengakhirinya semudah mengakhiri permainan monopoli”

Demi Tuhan aku melihat raut lega diwajahmu. Bukan ekspresi yang kuharapkan. Sebesar itukah keinginanmu untuk memaksaku berhenti mencintaimu?

“Lalu, apa hubungannya dengan bunga-bunga ini?”

Ada yang menjerit di hatiku. Ketidakberdayaan yang meronta-ronta hebat. Aku sakit! Sungguh aku tak pernah menginginkan saat-saat seperti ini tejadi.

“Aku akan berhenti, mengakhiri semua usahaku, semua tangisku, semua harapanku, saat semua bunga-bunga itu layu. Aku janji ... ”

“Maksudmu?” dia menatapku dan mawar-mawar itu bergantian. Jelas sekali ada tanda tanya di matanya. Bibirnya siap sedia melontarkan ketidakmengertiannya dengan penjelasanku barusan.

“Aku memberimu 10 buah bunga mawar dalam satu rangkaian itu. Demi Tuhan aku akan menepati janjiku untuk berhenti mencintaimu asalkan semua mawar itu layu. Semuanya ....” aku mengatakan itu sambil menatap jauh kedalam mata teduhnya.

Ada ketidaksetujuan dalam raut wajahnya, “Jadi, cintamu hanya seumuran mawar-mawar ini? Sedangkal itu?”

“Bukankah itu maumu? Aku berhenti memperjuangkanmu, lalu kita mencari kebahagiaan di jalan masing-masing? Aku mengabulkan keinginanmu sekarang. Iya, cintaku seumuran mawar-mawar itu. Sedangkal apa yang kamu pikirkan”

“Maafkan aku. Aku tau ini bukan hal mudah untukmu. Terima kasih karna telah berusaha mengerti aku. Siapapun orang yang akan mendapatkan hatimu nanti, dialah yang paling beruntung di dunia ini”

“Seandainya saja orang beruntung itu kamu, aku akan sangat bahagia”, ada genangan air mata yang siap jatuh. Hanya saja aku sedang tak ingin menangis di depannya.

“Maaf. Aku akan mengabarimu lagi ketika semua mawar ini layu”

“Aku menunggu kabarmu”

Kutatap punggungnya yang menjauh. Semakin jauh dan jauh. Aku tak kuasa menggapainya lagi. Cinta yang pernah ada begitu besar di antara kita kini sedang menunggu kematiannya. Semua bergantung pada mawar-mawar itu ... 



Dua hari setelah itu. Saat gerimis tipis membasahi sebagian besar kota Surabaya, meninggalkan genangan air kecil disana-sini. Saat aku tengah duduk diam di teras rumah, memperhatikan butir demi butir gerimis yang jatuh. Mempertanyakan bagaimana cara Tuhan bekerja membuat gerimis itu tampak indah sekaligus memilukan. 

Mawar-mawar yang kamu berikan padaku dua hari lalu tergeletak bisu diatas meja. Tangkai tangkainya menghitam, warna bunga yang tadinya merah menyala kini berubah kering kecoklatan. Mawar-mawar itu layu ...

Aku mengambilnya, menimbang nimbang dalam genggamanku. Ada sebersit rasa yang tiba-tiba dihidupkan kembali. Beberapa kelebatan memori berlari berputar-putar dalam labirin masa lalu. Namamu, masih tertulis sangat jelas dihatiku, masih kamu yang senyumnya, tawanya adalah sebagian dari hidupku. Kamu, yang berarti lebih, bermakna luar biasa untukku. Mungkin aku merindukanmu sayang ...

Perpisahan ini memang sulit .. tapi harus!

Sekali lagi aku memandangi mawar mawar kering itu. Kamu sangat pintar sayang! Kecerdasan itu salah satu hal yang sering membuatku kesulitan melepasmu, selain kelembutanmu, pengertianmu, perhatian perhatian kecilmu, dan seambrek lagi kelebihanmu.

Mawar mawar itu memang berjumlah sepuluh buah. Dan kamu berjanji akan berhenti mencintai dan mengharapkanku kembali setelah SEMUA mawar itu layu. Aku sempat percaya, bahkan begitu antusias ketika kamu berani membuat janji sehebat itu. Padahal aku tau itu bukan hal mudah untukmu. 

Bukannya aku memaksamu untuk mengakhiri rasa yang telah bertahun-tahun kita pertahankan bersama. Aku hanya tersiksa melihatmu begitu hancur, rapuh, menghabiskan air matamu hanya untuk menangisi orang sepertiku. Aku yang tega meninggalkanmu. Aku yang tega menggoreskan luka sedalam itu di relung hati lembutmu, luka yang aku yakin tak akan mudah sembuh. Aku ingin kamu berhenti! Aku ingin kamu kembali sebersinar dulu, ketika pertama kali aku jatuh cinta pada kilauan sinarmu. Saat ini, setelah sebuah keputusan berpisah terlanjur dibuat, aku hanya ingin kamu menciptakan dunia barumu tanpa aku. Bahagia bersama orang yang lebih pantas menerima dirimu yang hampir tanpa celah itu. Maafkan aku ..

Berkali kali aku tersenyum mengingat kejadian dua hari lalu ketika dengan begitu tegas kamu mengucapkan janji itu ditambah dengan mata beningmu yang penuh kilat keseriusan. Saat itu aku hampir yakin kamu bisa melakukannya ...

Dua jam lalu ketika aku mendapati satu diantara sepuluh mawar itu adalah mawar palsu, aku sadar janji itu hanya sekedar janji, tak akan punya kesempatan untuk ditepati.

Mawar palsu ini, selamanya dia tak akan pernah layu ....

Kamu, selamanya akan tetap menjadi kamu. Yang masih terus mencintaiku dan mengharapku memilih jalan berputar, kembali kearahmu ...

Sekali lagi maafkan aku ..

Dan terima kasih untuk cintamu yang tak terbendung itu ..


05 Januari 2013 – 15.59
Dunia Dalam Aksara - YanisNP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peduli - DuniaDalamAksara