Kamu memutuskan pergi dan aku tak lagi punya
kekuatan untuk memaksamu kembali ..
Aku menggengam rangkaian bunga mawar ini
erat-erat. Tanganku basah, mungkin gugup.
“Heeii, udah lama? Maaf aku terlambat”, nafasnya
memburu sebelum akhirnya dia duduk disampingku.
Ini memang aneh. Dua bulan lalu kamu memutuskan
pergi. Mengakhiri hubungan yang sudah lama kita perjuangan bersama. Begitu saja
meninggalkanku dengan puing-puing kenangan yang berserakan dimana-mana. Aku
hancur, entah sehancur apa. Banyak sekali rasa yang hadir tapi tak tergambarkan
lewat kata-kata.
Hari ini, hanya karna aku begitu rindu dengan
kehangatan senyummu kita bertemu disini dalam kenyamanan yang tak lagi sama.
Aku dan kamu, dua jiwa yang tak lagi terikat dalam satu kalimat. Tak ada lagi
cinta yang begitu nyata terpancar diantara tatapan teduhmu. Kita, terpisah ...
“Aku cuma mau kasih ini, buat kamu”, aku
memberikan serangkai mawar yang kubeli tadi pagi di toko bunga.
“Apa ini?”
“Bunga”
“Maksudku, untuk apa?”
“Cuma kenang-kenangan, mungkin kamu suka”
Kamu menatap jauh kedalam mataku, berusaha
mencari kebenaran disana, “Kamu memintaku datang kesini hanya untuk mawar-mawar
yang bahkan tak memiliki penjelasan ini?”
“Ada beberapa hal yang memang tak mempunyai
penjelasan. Seperti takdir, dia membuatmu begitu luar biasa dalam bahagia tapi
dalam satu kedipan mata dia membuatmu kehilangan segalanya. Apa ada sebuah
penjelasan yang masuk akal untuk itu?”
“Apa ini masih tentang kita? Kukira setelah
semuanya berakhir kamu juga akan berhasil mengakhiri semua rasa-rasamu itu”
Aku menatapnya dengan tatapan menuntut! “Kamu
kira ini sekedar permainan monopoli yang akan selesai ketika salah satu
memutuskan berhenti?”
“Okee. Maafkan aku! Aku tak akan memaksamu untuk
melupakan semuanya semudah mengakhiri permainan monopoli, tapi berhentilah
menangisi dirimu sendiri! Berhenti berusaha membuat semuanya seperti
dulu. Itu
nggak mungkin!”
“Justru itu, aku kesini untuk mempertegas padamu
bahwa aku tak akan lagi menangisi diriku sendiri. Aku akan berhenti,
mengakhirinya semudah mengakhiri permainan monopoli”
Demi Tuhan aku melihat raut lega diwajahmu.
Bukan ekspresi yang kuharapkan. Sebesar itukah keinginanmu untuk memaksaku
berhenti mencintaimu?
“Lalu, apa hubungannya dengan bunga-bunga ini?”
Ada yang menjerit di hatiku. Ketidakberdayaan
yang meronta-ronta hebat. Aku sakit! Sungguh aku tak pernah menginginkan
saat-saat seperti ini tejadi.
“Aku akan berhenti, mengakhiri semua usahaku,
semua tangisku, semua harapanku, saat semua bunga-bunga itu layu. Aku janji ...
”
“Maksudmu?” dia menatapku dan mawar-mawar itu
bergantian. Jelas sekali ada tanda tanya di matanya. Bibirnya siap sedia
melontarkan ketidakmengertiannya dengan penjelasanku barusan.
“Aku memberimu 10 buah bunga mawar dalam satu
rangkaian itu. Demi Tuhan aku akan menepati janjiku untuk berhenti mencintaimu
asalkan semua mawar itu layu. Semuanya ....” aku mengatakan itu sambil menatap
jauh kedalam mata teduhnya.
Ada ketidaksetujuan dalam raut wajahnya, “Jadi,
cintamu hanya seumuran mawar-mawar ini? Sedangkal itu?”
“Bukankah itu maumu? Aku berhenti
memperjuangkanmu, lalu kita mencari kebahagiaan di jalan masing-masing? Aku
mengabulkan keinginanmu sekarang. Iya, cintaku seumuran mawar-mawar itu.
Sedangkal apa yang kamu pikirkan”
“Maafkan aku. Aku tau ini bukan hal mudah
untukmu. Terima kasih karna telah berusaha mengerti aku. Siapapun orang yang
akan mendapatkan hatimu nanti, dialah yang paling beruntung di dunia ini”
“Seandainya saja orang beruntung itu kamu, aku
akan sangat bahagia”, ada genangan air mata yang siap jatuh. Hanya saja aku
sedang tak ingin menangis di depannya.
“Maaf. Aku akan mengabarimu lagi ketika semua
mawar ini layu”
“Aku menunggu kabarmu”
Kutatap punggungnya yang menjauh. Semakin jauh
dan jauh. Aku tak kuasa menggapainya lagi. Cinta yang pernah ada begitu besar
di antara kita kini sedang menunggu kematiannya. Semua bergantung pada
mawar-mawar itu ...
Dua hari setelah itu. Saat gerimis tipis
membasahi sebagian besar kota Surabaya, meninggalkan genangan air kecil
disana-sini. Saat aku tengah duduk diam di teras rumah, memperhatikan butir
demi butir gerimis yang jatuh. Mempertanyakan bagaimana cara Tuhan bekerja
membuat gerimis itu tampak indah sekaligus memilukan.
Mawar-mawar yang kamu berikan padaku dua hari
lalu tergeletak bisu diatas meja. Tangkai tangkainya menghitam, warna bunga
yang tadinya merah menyala kini berubah kering kecoklatan. Mawar-mawar itu layu
...
Aku mengambilnya, menimbang nimbang dalam
genggamanku. Ada sebersit rasa yang tiba-tiba dihidupkan kembali. Beberapa
kelebatan memori berlari berputar-putar dalam labirin masa lalu. Namamu, masih
tertulis sangat jelas dihatiku, masih kamu yang senyumnya, tawanya adalah
sebagian dari hidupku. Kamu, yang berarti lebih, bermakna luar biasa untukku. Mungkin
aku merindukanmu sayang ...
Perpisahan ini memang sulit .. tapi harus!
Sekali lagi aku memandangi mawar mawar kering
itu. Kamu sangat pintar sayang! Kecerdasan itu salah satu hal yang sering membuatku
kesulitan melepasmu, selain kelembutanmu, pengertianmu, perhatian perhatian
kecilmu, dan seambrek lagi kelebihanmu.
Mawar mawar itu memang berjumlah sepuluh buah.
Dan kamu berjanji akan berhenti mencintai dan mengharapkanku kembali setelah
SEMUA mawar itu layu. Aku sempat percaya, bahkan begitu antusias ketika kamu
berani membuat janji sehebat itu. Padahal aku tau itu bukan hal mudah untukmu.
Bukannya aku memaksamu untuk mengakhiri rasa
yang telah bertahun-tahun kita pertahankan bersama. Aku hanya tersiksa
melihatmu begitu hancur, rapuh, menghabiskan air matamu hanya untuk menangisi
orang sepertiku. Aku yang tega meninggalkanmu. Aku yang tega menggoreskan luka
sedalam itu di relung hati lembutmu, luka yang aku yakin tak akan mudah sembuh.
Aku ingin kamu berhenti! Aku ingin kamu kembali sebersinar dulu, ketika pertama
kali aku jatuh cinta pada kilauan sinarmu. Saat ini, setelah sebuah keputusan
berpisah terlanjur dibuat, aku hanya ingin kamu menciptakan dunia barumu tanpa
aku. Bahagia bersama orang yang lebih pantas menerima dirimu yang hampir tanpa
celah itu. Maafkan aku ..
Berkali kali aku tersenyum mengingat kejadian
dua hari lalu ketika dengan begitu tegas kamu mengucapkan janji itu ditambah
dengan mata beningmu yang penuh kilat keseriusan. Saat itu aku hampir yakin
kamu bisa melakukannya ...
Dua jam lalu ketika aku mendapati satu diantara
sepuluh mawar itu adalah mawar palsu, aku sadar janji itu hanya sekedar janji,
tak akan punya kesempatan untuk ditepati.
Mawar palsu ini, selamanya dia tak akan pernah
layu ....
Kamu, selamanya akan tetap menjadi kamu. Yang
masih terus mencintaiku dan mengharapku memilih jalan berputar, kembali
kearahmu ...
Sekali lagi maafkan aku ..
Dan terima kasih untuk cintamu yang tak
terbendung itu ..
05
Januari 2013 – 15.59
Dunia
Dalam Aksara - YanisNP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Peduli - DuniaDalamAksara