Siang ini, hujan kehabisan daya
untuk terus mengguyur bumi, dia hanya menyisakan sedikit gerimis. Basah,
genangan air dimana – mana. Begitulah hujan, kadang merusak seuasana.
Pandanganku lurus, nyalang, kosong. Entahlah ..
“Lupakan masa lalu. Ada aku
di depanmu. Apa aku begitu tak terlihat olehmu?”, ucapannya membuayarkan semua
kekosonganku dengan tiba – tiba. Ada rasa terharu tapi sekaligus perih.
“Aku tau. Hanya saja aku
masih terlalu takut berpindah hati. Aku takut tak bisa menemukan orang sepertinya
lagi. Dia .. mungkin satu –
satunya”
“Bahkan aku juga tak lebih
baik darinya? . Bukankah kau pernah bilang merasa nyaman saat bersamaku? Apa
itu belum cukup ? Lagipula semua hal yang kau sebut masa lalu itu sudah
terlewati bertahun – tahun. Belum sanggupkah kamu menyembuhkan dirimu sendiri? Memulai
semuanya dari awal lagi”, dia mendesak, dan aku mulai kesulitan menemukan
jawaban yang rasional.
“Kau pikir cinta hanya
sekedar sebuah kenyamanan. Pendek sekali pemikiranmu! Aku nyaman denganmu, itu
benar. Aku nyaman dengan hubungan
seperti ini, tanpa ikatan aku bisa memilikimu. Jika memang aku belum sembuh,
apa urusanmu?”
“Aku sangat berharap lebih
dari ini! Dengan hubungan seperti ini, aku tak punya hak apa – apa atas kamu.
Dan aku tersiksa .. Jelas ini urusanku. Aku mencitaimu. Apa yang terjadi padamu
akan terjadi padaku juga“
“Nggak semudah itu. Aku butuh
waktu. Kau tau aku masih terikat dengan masa laluku. Aku masih hidup dalam masa
laluku. Separuh jiwaku ada dibelakang sana, bukan disini. Aku tak akan bisa
sepenuhnya untukmu ... “
“Terlalu lama jika kamu hanya
menunggu. Sama dengan terlalu
bodoh jika kamu percaya pada takdir. Sebagian besar kekuasaan ada di tanganmu,
bukan takdir! Aku akan membuat
semuanya mudah untukmu. Percayalah!”, aku tau dia mulai putus asa dengan
argumenku.
Aku melihat jauh kedalam
matanya, mencari titik lemahnya. “Ketika kita bisa sama – sama memberikan
perhatian dan kita bisa saling menjaga, apa sebuah status jadi sesuatu yang
sangat penting? Kamu perlu tau,
aku membutuhkanmu. Tetaplah ada di dekatku. Menjadi dirimu yang apa adanya
tanpa sebuah paksaan. Dengan itu aku sudah sangat bahagia”
Dia meraih tanganku. Aku
merasa ada sesuatu tak tergambarkan sedang mnjalar melalui jari – jariku
kemudian terasa hangat, menghempaskan dinginnya angin gerimis. “Separuh hidupku
ada pada kebahagiaanmu. Jika itu membahagiakamu, baiklah. Selesaikan dulu ikatanmu dengan masa
lalu. Setelah itu lihat aku ... !! Mungkin kamu akan tau dengan pasti apa yang
membuatku begitu ingin memilikimu sepenuhnya”
“Terima kasih untuk semua
kesabaran dan pengertianmu. Mungkin aku tak akan menemukan orang sebaik dirimu
lagi. Tuhan akan membalas semuanya, lebih indah dari yang kamu inginkan. Doaku
selalu bersamamu .. “
Aku tau dia bisa merasakan
ketulusanku, “Terima kasih, Dear. Taukah kau, setiap detiknya aku berusaha
memberikan yang terbaik untukmu. Dan aku juga tak pernah lupa mengucapkan
namamu dalam setiap bait doaku. Aku menunggumu .. “
Kali ini aku tidak bisa
menahan air mataku. Aku jatuh dalam pelukkannya. Menangis, berlomba dengan
gerimis.
Aku tidak tau mengapa
hubungan kita menjadi serumit ini. Semua permasalahan ada padaku. Untuk orang
sebaik dia harusnya Tuhan menghadirkan seseorang yang lebih segalanya dariku
untuk mencintainya. Entah ..
Semua akan indah pada
waktunya, aku percata itu ..
Dunia Dalam Aksara – YanisNP

oke..like this!!
BalasHapus