Aku membuka mata dengan cukup malas pagi ini, berusaha mengumpulkan
kesadaran dan mengucapkan selamat berpisah pada mimpi penghias tidur semalam.
Kemudian setelahnya aku mendapati cara bernafas yang sama, udara dingin di
penghujung tahun yang terasa lebih dingin dari pagi - pagi sebelumnya (Surabaya
sedang memasuki musim penghujan), rasa lelah yang sama (jadwal kuliah begitu
padat, hampir tidak ada waktu untuk istirahat dan tidur nyenyak seperti Putri
Tidur dalam dongeng-dongeng kuno).
Hal pertama yang kulakukan setelah aku membuka mata bukanlah berhubungan
dengan Tuhan (membaca doa bangun tidur dengan kusyu dan berharap hari ini
berjalan lancar), aku tidak sereligius itu. Aku langsung mengambil handphone di
bawah bantal dan mengecek apakah ada pesan masuk yang belum sempat kubaca.
Ralat! Aku bukan hanya seksdar melihat layar handphone, tapi setiap pagi aku
memungut benda elektronik itu dari bawah bantal kemudian begitu seksama menatap
pada layar mungilnya dengan rasa cemas, dengan perasaan harap yang begitu besar
(aku sering menganggap ini galau pagi hari). Iya, aku selalu berharap ada
namamu muncul di layar bercahaya itu, mengirimiku pesan semalam. Mungkin untuk
sekedar mengucapkan selamat tidur dengan kata-kata romantis. Seperti,
"Selamat tidur sayang, semoga mimpi mempertemukan kita malam ini".
Atau sebuah ucapan selamat pagi, "Morning Dear. Bagaimana tidurmu? Apa kau
bertemu Tuhan dalam tidurmu dan meminta padaNya untuk menjodohkan aku dan
kamu?"
Tapi naytanya setiap pagi aku kecewa. Bayangkan! Setiap pagi aku
dikecewakan. Tidak pernah ada namamu dengan ucapan-ucapan itu. Bukan hanya
untuk pagi ini, telah banyak pagi-pagi sebelum ini yang kulewatkan dengan
kekosongan, dan aku tau pagi-pagi selanjutnya juga akan sama. Aku menunggu ...
Oke, mungkin aku terlalu berlebihan dalam berkisah. Biar kujelaskan. Aku dan
dia tidak mempunyai ikatan apa-apa. Tidak ada sebuah hubungan yang memperjelas
keberadaan kita. Aku dan dia adalah dua jiwa yang masih terpiasah, belum
menemukan hal semacam apa yang bisa menyatukan kepingan menjadi satu keutuhan
ini. Dua raga yang masih mencari kepastian. Kadang berjalan, kadang berlari,
kadang berhenti, hanya merenungi masih sejauh mana kebenaran hakikat itu
disematkan.
Mungkin aku menganggapnya special, dia jelas mempunyai kedudukan berbeda
dengan teman laki-lakiku yang lain. Saat ini dia Raja! Merajai hatiku, merajai
laju kerja otakku, merajai hidupku. Dia membuat semuanya berubah! Tapi .. justru sebuah kebalikan frontal dari itu. Dia hanya menggapku teman biasa, kedudukanku sama tidak jelasnya dengan teman-teman perempuannya yang lain. Aku tidak sebagai apa-apa dalam hidupnya, jelas tidak ada sepotong namaku dihatinya, bahkan mungkin dia tidak mau menyia-nyiakan satu detiknya hanya untuk mengingatku. Aku tertawa, mentertawakan diriku sendiri.
Kadang aku merasa bodoh, untuk apa aku mencintai semua ketidakpastianmu? Tidak sadarkah kamu, aku tersiksa setiap kali melihatmu begitu dekat denganku tapi aku tidak bisa memilikimu. Lebih parahnya, aku tidak mempunyai kesempatan hanya untuk sekedar bilang 'aku menyukaimu'
Jika terpesona padamu harus sesakit ini. Jika mengagumimu harus sesulit ini. Mungkin pagi ini bukan pagi terakhir yang kulewati dengan sebuah kekecewaan yang membuncah, dengan sebuah harapan yang terlalu mustahil menemui kenyataan. Waktu terus berjalan .. dan aku selalu memulai hariku dengan rasa hampa yang sama.
Selamat pagi sayang, dimana dan sedang apapun dirimu sekarang
Beri aku kekuatan dengan indahmu itu. Semoga aku bisa melewati setiap hariku dengan bekal ketulusan mencintaimu .. ..
NB : Tulisan ini dibuat dengan sebuah harapan. Di suatu pagi tanpa angin, bahkan tanpa mentari. Di sebuah pagi yang sunyi. AKu berharap kamu paham akan apa yang kurasakan terhadapmu :*
DuniaDalamAksara - YanisNP
09 Desember 2011
12.12

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Peduli - DuniaDalamAksara