"Kita putus! Aku tidak akan melanjutkan hubungan ini denganmu. Kita sudah sangat tidak cocok, jangan dipaksakan. Kamu bisa menemukan orang lain yang lebih segalanya dibanding aku. Maaf .."
Aku diam, lama. Menatap lurus ke arah bola matanya. Aku merasakan jantungku berhenti berdetak. Nafasku tercekat di tenggorokan. Sungguhkah? Dia benar-benar memutuskan hubungan denganku. Hubungan yang sudah kita jaga selama satu tahun. Hubungan yang berjalan dengan tidak mudah. Hubungan yang penuh pengorbanan. Hubungan yang mati-matian kami pertahankan berdua. Sekarang, dia mengakhirinya begitu saja. Hanya dengan alasan karena kami tidak mempuanyai kecocokan. Kenapa baru sekarang dia menyadari itu?
Sejak pertama memutuskan untuk saling mengikat, kami sudah sama-sama tau bahwa berpacaran adalah emnyatukan dua jiwa, dua kepribadian, dua komitmen, dua pemikiran, dan banyak perbedaan. Selama ini kami menjalaninya dengan banyak pertentangan. Kepribadian yang sangat jelas bertolak belakang. Pemikiran yang tidak akan bisa disatukan. Kenapa dia baru menegaskan sekarang bahwa tidak ada kecocokan diantara kita? Setelah aku begitu mencintainya. Setelah aku tidak akan sanggup tanpanya. Kenapa?
"Maafkan aku. Aku tau ini sangat tiba-tiba. Tapi ini sudah menjadi keputusanku. Aku harap kamu menghargainya. Kita masih bisa berteman setelah ini", sambungnya lagi sambil tersenyum hambar.
Bahkan dia masih bisa memberiku sebuah senyuman disaat hatiku begitu perih dengan keputusan sepihaknya. "Kenapa? Setelah semuanya, pengorbanan kita, janji-janji kita. Apa hanya sampai disini kamu bisa bertahan?"
"Ya. Aku tidak mungkin lagi mempertahankan ini. Kita berbeda, aku tidak merasa cocok lagi denganmu"
"Setelah sejauh ini, kamu baru merasakan ketidakcocokan kita sekarang? Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan semua janji kita? Hal-hal yang belum sempat kita capai bersama? Apa yang harus aku katakan pada semua orang? Bagaimana aku menjelaskan pada mereka bahwa kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi? Aku malu. Kamu tau aku begitu membanggakanmu pada mereka. Sekarang justru setega ini kamu padaku!"
Aku diam, lama. Menatap lurus ke arah bola matanya. Aku merasakan jantungku berhenti berdetak. Nafasku tercekat di tenggorokan. Sungguhkah? Dia benar-benar memutuskan hubungan denganku. Hubungan yang sudah kita jaga selama satu tahun. Hubungan yang berjalan dengan tidak mudah. Hubungan yang penuh pengorbanan. Hubungan yang mati-matian kami pertahankan berdua. Sekarang, dia mengakhirinya begitu saja. Hanya dengan alasan karena kami tidak mempuanyai kecocokan. Kenapa baru sekarang dia menyadari itu?
Sejak pertama memutuskan untuk saling mengikat, kami sudah sama-sama tau bahwa berpacaran adalah emnyatukan dua jiwa, dua kepribadian, dua komitmen, dua pemikiran, dan banyak perbedaan. Selama ini kami menjalaninya dengan banyak pertentangan. Kepribadian yang sangat jelas bertolak belakang. Pemikiran yang tidak akan bisa disatukan. Kenapa dia baru menegaskan sekarang bahwa tidak ada kecocokan diantara kita? Setelah aku begitu mencintainya. Setelah aku tidak akan sanggup tanpanya. Kenapa?
"Maafkan aku. Aku tau ini sangat tiba-tiba. Tapi ini sudah menjadi keputusanku. Aku harap kamu menghargainya. Kita masih bisa berteman setelah ini", sambungnya lagi sambil tersenyum hambar.
Bahkan dia masih bisa memberiku sebuah senyuman disaat hatiku begitu perih dengan keputusan sepihaknya. "Kenapa? Setelah semuanya, pengorbanan kita, janji-janji kita. Apa hanya sampai disini kamu bisa bertahan?"
"Ya. Aku tidak mungkin lagi mempertahankan ini. Kita berbeda, aku tidak merasa cocok lagi denganmu"
"Setelah sejauh ini, kamu baru merasakan ketidakcocokan kita sekarang? Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan semua janji kita? Hal-hal yang belum sempat kita capai bersama? Apa yang harus aku katakan pada semua orang? Bagaimana aku menjelaskan pada mereka bahwa kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi? Aku malu. Kamu tau aku begitu membanggakanmu pada mereka. Sekarang justru setega ini kamu padaku!"
"Kamu pikir kamu sendirian melewati ini? Aku juga sama bingungnya denganmu. Sama sakitnya denganmu. Bahkan aku masih tidak percaya aku bisa mengatakan ini padamu"
"Lalu untuk apa kamu melakukannya? Aku masih ingin bersamamu. Kita lakukan sekali lagi. Kita mulai semuanya dari awal. Dan semuanya akan baik-baik saja. Percayalah. Kumohon .."
"Maaf sayang, aku tidak bisa. Aku lelah dengan semua sikapmu. Tidakkah kamu lihat jurang yang begitu lebar diantara kita? Selama ini kita terlalu memaksa untuk menyebrangi jurang itu. Kadang merangkak, berjalan, dan jika merasa jarak pemisah itu sudah nyaris habis dengan sombongnya kita berlari. Padahal kita sama-sama tau, sekuat apapun kita berusaha menakhlukkan jarak itu, dia akan tetap ada, menjadi pemisah sampai kapanpun"
"Tapi aku mencintaimu. Kumohon, satu kesempatan lagi untukku", aku tergagap. Rasanya tidak ada yang bisa kuungkapankan lagi padanya selain permohonan-permohonan itu. Dia tau aku sangat mencintainya. Dengan begitu teganya dia melakukan ini padaku. Apa maunya?
"Sudah terlalu banyak kesempatan untukmu. Aku lelah"
"Sekali lagi. Aku janji ini akan jadi kesempatan terakhir. Jika setelah ini aku melakukan kesalahan lagi, kamu boleh meninggalkanku selamanya. Kumohon ..". Sungguh aku tidak akan bisa apa-apa tanpanya. Sungguh ..
"Dengarkan aku. Ini hanya masalah waktu. Satu sampai dua bulan lagi kamu akan baik-baik saja. Kamu akan terbiasa tanpaku. Aku percaya kamu bisa melewatinya. Aku juga akan memperbaiki hatiku sendirian, tanpamu lagi. Kita akan lebih bahagia setelah ini. Kamu bisa mulai mencari hati baru yang bisa melengkapi hatimu. Dan pastikan dia seseorang yang tidak akan meninggalkanmu seperti aku. Seseorang yang akan menjagamu selamanya. Maafkan aku. Jangan takut, kamu masih bisa menghubungiku kapan pun kamu mau", dia mengenggam tanganku dengan hangat. Mungkin kehangatan terakhir untukku ..
Aku bisa mendengar helaan nafasnya yang memburu. Aku tau dia sama sakitnya denganku. Dia merasa sangat bersalah padaku. Aku bisa melihat jelas kebekuan itu dimatanya. Kebekuan yang tidak pernah kujumpai sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Kebekuan itu mengirnakan segala damai penuh keteduhan yang selalu memancar dimatanya. Hari ini kebekuan itu mengalahkannya. Dia menyakitiku, kemudian menyakiti dirinya sendiri? Kenapa dia melakukannya? Kenapa dia begitu bodoh untuk tidak tetap tinggal bersmaku? Demi Tuhan aku akan melakukan apa pun asalkan dia mau memberikan satu kesempatan lagi untukku.
Kali ini aku memandangnya dari balik genangan air mata. Sedih, takut, bingung. Aku tidak tau harus apa setelah ini .. tanpanya. "Kamu bilang ini hanya masalah wkatu? Tidak taukah kamu, melewati satu menit saja dengan kenyataan seperti ini aku tidak akan mampu. Aku tidak sekuat yang kamu kira. Kumohon .. jangan setega ini padaku. Aku mencintaimu"
"Sayang, aku mulai lelah dengan pembicaraan ini. Tolong hargai keputusanku! Kamu akan dapatkan yang terbaik, tapi bukan aku. Percayalah sayang .."
"Aku sama sekali tidak butuh siapa pun itu yang lebih baik. Aku hanya ingin denganmu, aku membutuhkanmu. Tolong mengertilah. Satu kesempatan lagi", kali ini aku benar-benar ingin bersujud padanya.
Dia memelukku seketika. Air mataku membasahi bajunya. Aku berharap ini bukan pelukan terakhir darinya. Aku rela menukar apa pun yang kumiliki asalkan saat-saat seperti ini tak terlewati. Aku rela, apa pun, asalkan setelah ini semuanya akan kembali seperti semula. Dia dan aku dipersatukan dalam cinta. Ya Tuhan..
"Sayang, sungguh maafkan aku. Aku janji semuanya akan lebih indah setelah ini. Dengan jalan kita masing-masing. Tuhan tau mana yang paling baik untuk kita. Dan saat ini berpisah adalah keputusan terbaik"
Masih dalam pelukannya aku berusaha bicara meskipun aku tau hasilnya akan sama .. perpisahan. "Kamu bukan Tuhan, dari mana kamu tau perpisahan menjadi keputusan terbaik?"
"Karena tidak mungkin kita menjalin hubungan sepihak. Hubungan yang pincang. Aku tidak lagi menginginkan hubungan ini. Mengertilah. Jika kita ditakdirkan berjodoh suatu saat Tuhan sendiri yang akan mempersatukan kita lagi. Bukankah rencana Tuhan selalu lebih indah dari rencana kita?"
Aku melepaskan pelukannya, itu mungkin benar-benar menjadi pelukan terakhirnya untukku. Pelukan tanpa cinta, "Aku menunggumu. Tidak akan ada orang lain yang menggantikan posisimu di hatiku. Jika setelah ini kamu menemui jalan buntu, kembalilah. Dan kamu akan mendapati aku masih menunggumu, masih sepenuhnya mencintaimu"
"Jangan seperti itu. Justru itu akan membebaniku. Bahagiakan dirimu meskipun tanpaku. Aku percaya kamu bisa. Kamu orang yang luar biasa, dapatkan pendamping yang juga luar biasa. Berjanjilah padaku untuk terus melanjutkan hidupmu dengan keluarbiasaanmu. Sekali lagi maafkan aku ..", aku bisa melihat dengan jelas sinar penyesalan dimatanya
"Maafkan aku. Jika kamu tidak bisa mempertahankan hubungan ini, aku juga tidak bisa pergi dan melupakanmu begitu saja. Biarkan aku tetap seperti ini, bertahan sendirian tanpamu. Tetap memperjuangkan apa yang seharusnya bisa kita perjuangkan bersama. Dan kenapa aku menjadi luar biasa? Karena aku bersamamu. Tanpamu .. aku bukan siapa-siapa"
Dia diam. Aku tidak menyangka akan berakhir begini. Kami bertemu dengan sebuah keajaiban. Berkenalan, menjalin hubungan dekat dan memutuskan untuk mempersatukan apa yang sebelumnya terpisah. Kamu mempunyai banyak janji. Janji yang diikat dalam doa. Kami saling mencintai, saling membutuhkan, saling menjaga. Semua itu indah, jadi kenapa harus dilupakan?
"Lupakan aku!! Apa pun yang terjadi aku tidak mungkin kembali padamu", ada ketegasan yang dia tekankan dalam kalimatnya. Lalu dia mencium keningku sebelum berbalik dan melangkah pergi.
Aku menatapnya dari balik air mata. Buram. Semu. Sungguh dia pergi meninggalkan harapan sedikit pun untukku. Semakin jauh dan semakin jauh. Tidak ada jejaknya yang tersisa. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan setelah ini, tanpanya lagi.
Ada yang hilang, kosong, hampa. Sakit yang teramat sakit. Dia pergi dengan sebuah luka berdarah-darah dihatiku. Aku tidak pernah menyesal mencintaimu sayang. Mungkin sakitnya tidak akan sehebat ini jika saja orang yang kucintai bukan kamu.
Tuhan, apa rencanamu untuk semua ini? Kumohon kembalikan dia ..




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Peduli - DuniaDalamAksara