Ketika kami kelaparan dan hanya memiliki sedikit makanan
Aku bertanya pada ibu
Apa ibu lapar?
Saat itu ibu menjawab
Ibu tidak lapar nak. Makanlah makanan itu ..
Padahal aku tau ibu sama laparnya denganku
Kebohongan ibu yang pertama
Saat aku membutuhkan uang untuk keperluan sekolah
Aku bertanya pada ibu
Apa ibu mempunyai uang?
Saat itu ibu menjawab
Ibu akan selalu mengusahakan uang untuk sekolahmu nak
Padahal aku tau betapa sulitnya keuangan kami
Kebohongan ibu yang kedua
Waktu ibu mengalami sakit keras
Aku bertanya pada ibu
Apakah ibu baik-baik saja?
Sambil menangis ibu menjawab
Ibu akan sembuh nak
Selanjutnya aku pun tersadar ..
Itu adalah air mata terakhir. Kalimat terakhir. Nafas terakhir
Dan kebohongan ibu yang terakhir
NB : Puisi ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Waktu itu aku mengikuti sebuah perkumpulan dengan anak-anak jalanan. Aku masih ingat, salah satu dari anak-anak itu, yang sebenarnya dia lumayan cantik, hanya terlihat sedikit tak terurus, aku sudah lupa siapa namanya. Dia membacakan puisi ini dengan berurai air mata. Aku ingat benar saat itu aku duduk dipinggir lapangan dan ikut menangis bersmanya. Dia menarik para pengunjung perkumpulan itu kedalam puisi harunya. Seorang anak yang masih terlalu kecil sudah harus menanggung cobaan seberat itu. Dia yang bercita-cita menjadi polwan, bukan sembarang impian. Bagaimana dia bisa mencapai itu dengan keadaan yang serba terbatas ditambah lagi tanpa dukungan seorang ibu? Aku harap kita semua bisa belajar dari kisah ini. Biar bagaimana pun kita jauh lebih beruntung dari penulis puisi sekaligus pejuang kehidupan yang luar biasa ini. Bersyukurlah :)
DuniaDalamAksara - YanisNP
18 Agustus 2011
03.31


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Peduli - DuniaDalamAksara