Sabtu, 05 Januari 2013

.:. Bunga Terakhir .:.


Kamu memutuskan pergi dan aku tak lagi punya kekuatan untuk memaksamu kembali ..

Aku menggengam rangkaian bunga mawar ini erat-erat. Tanganku basah, mungkin gugup.   

“Heeii, udah lama? Maaf aku terlambat”, nafasnya memburu sebelum akhirnya dia duduk disampingku. 

Ini memang aneh. Dua bulan lalu kamu memutuskan pergi. Mengakhiri hubungan yang sudah lama kita perjuangan bersama. Begitu saja meninggalkanku dengan puing-puing kenangan yang berserakan dimana-mana. Aku hancur, entah sehancur apa. Banyak sekali rasa yang hadir tapi tak tergambarkan lewat kata-kata.

Hari ini, hanya karna aku begitu rindu dengan kehangatan senyummu kita bertemu disini dalam kenyamanan yang tak lagi sama. Aku dan kamu, dua jiwa yang tak lagi terikat dalam satu kalimat. Tak ada lagi cinta yang begitu nyata terpancar diantara tatapan teduhmu. Kita, terpisah ...

“Aku cuma mau kasih ini, buat kamu”, aku memberikan serangkai mawar yang kubeli tadi pagi di toko bunga.

“Apa ini?”

“Bunga”

“Maksudku, untuk apa?”

“Cuma kenang-kenangan, mungkin kamu suka”

Kamu menatap jauh kedalam mataku, berusaha mencari kebenaran disana, “Kamu memintaku datang kesini hanya untuk mawar-mawar yang bahkan tak memiliki penjelasan ini?”

“Ada beberapa hal yang memang tak mempunyai penjelasan. Seperti takdir, dia membuatmu begitu luar biasa dalam bahagia tapi dalam satu kedipan mata dia membuatmu kehilangan segalanya. Apa ada sebuah penjelasan yang masuk akal untuk itu?”

“Apa ini masih tentang kita? Kukira setelah semuanya berakhir kamu juga akan berhasil mengakhiri semua rasa-rasamu itu”

Aku menatapnya dengan tatapan menuntut! “Kamu kira ini sekedar permainan monopoli yang akan selesai ketika salah satu memutuskan berhenti?”

“Okee. Maafkan aku! Aku tak akan memaksamu untuk melupakan semuanya semudah mengakhiri permainan monopoli, tapi berhentilah menangisi dirimu sendiri! Berhenti berusaha membuat semuanya seperti 
dulu. Itu nggak mungkin!”

“Justru itu, aku kesini untuk mempertegas padamu bahwa aku tak akan lagi menangisi diriku sendiri. Aku akan berhenti, mengakhirinya semudah mengakhiri permainan monopoli”

Demi Tuhan aku melihat raut lega diwajahmu. Bukan ekspresi yang kuharapkan. Sebesar itukah keinginanmu untuk memaksaku berhenti mencintaimu?

“Lalu, apa hubungannya dengan bunga-bunga ini?”

Ada yang menjerit di hatiku. Ketidakberdayaan yang meronta-ronta hebat. Aku sakit! Sungguh aku tak pernah menginginkan saat-saat seperti ini tejadi.

“Aku akan berhenti, mengakhiri semua usahaku, semua tangisku, semua harapanku, saat semua bunga-bunga itu layu. Aku janji ... ”

“Maksudmu?” dia menatapku dan mawar-mawar itu bergantian. Jelas sekali ada tanda tanya di matanya. Bibirnya siap sedia melontarkan ketidakmengertiannya dengan penjelasanku barusan.

“Aku memberimu 10 buah bunga mawar dalam satu rangkaian itu. Demi Tuhan aku akan menepati janjiku untuk berhenti mencintaimu asalkan semua mawar itu layu. Semuanya ....” aku mengatakan itu sambil menatap jauh kedalam mata teduhnya.

Ada ketidaksetujuan dalam raut wajahnya, “Jadi, cintamu hanya seumuran mawar-mawar ini? Sedangkal itu?”

“Bukankah itu maumu? Aku berhenti memperjuangkanmu, lalu kita mencari kebahagiaan di jalan masing-masing? Aku mengabulkan keinginanmu sekarang. Iya, cintaku seumuran mawar-mawar itu. Sedangkal apa yang kamu pikirkan”

“Maafkan aku. Aku tau ini bukan hal mudah untukmu. Terima kasih karna telah berusaha mengerti aku. Siapapun orang yang akan mendapatkan hatimu nanti, dialah yang paling beruntung di dunia ini”

“Seandainya saja orang beruntung itu kamu, aku akan sangat bahagia”, ada genangan air mata yang siap jatuh. Hanya saja aku sedang tak ingin menangis di depannya.

“Maaf. Aku akan mengabarimu lagi ketika semua mawar ini layu”

“Aku menunggu kabarmu”

Kutatap punggungnya yang menjauh. Semakin jauh dan jauh. Aku tak kuasa menggapainya lagi. Cinta yang pernah ada begitu besar di antara kita kini sedang menunggu kematiannya. Semua bergantung pada mawar-mawar itu ... 



Dua hari setelah itu. Saat gerimis tipis membasahi sebagian besar kota Surabaya, meninggalkan genangan air kecil disana-sini. Saat aku tengah duduk diam di teras rumah, memperhatikan butir demi butir gerimis yang jatuh. Mempertanyakan bagaimana cara Tuhan bekerja membuat gerimis itu tampak indah sekaligus memilukan. 

Mawar-mawar yang kamu berikan padaku dua hari lalu tergeletak bisu diatas meja. Tangkai tangkainya menghitam, warna bunga yang tadinya merah menyala kini berubah kering kecoklatan. Mawar-mawar itu layu ...

Aku mengambilnya, menimbang nimbang dalam genggamanku. Ada sebersit rasa yang tiba-tiba dihidupkan kembali. Beberapa kelebatan memori berlari berputar-putar dalam labirin masa lalu. Namamu, masih tertulis sangat jelas dihatiku, masih kamu yang senyumnya, tawanya adalah sebagian dari hidupku. Kamu, yang berarti lebih, bermakna luar biasa untukku. Mungkin aku merindukanmu sayang ...

Perpisahan ini memang sulit .. tapi harus!

Sekali lagi aku memandangi mawar mawar kering itu. Kamu sangat pintar sayang! Kecerdasan itu salah satu hal yang sering membuatku kesulitan melepasmu, selain kelembutanmu, pengertianmu, perhatian perhatian kecilmu, dan seambrek lagi kelebihanmu.

Mawar mawar itu memang berjumlah sepuluh buah. Dan kamu berjanji akan berhenti mencintai dan mengharapkanku kembali setelah SEMUA mawar itu layu. Aku sempat percaya, bahkan begitu antusias ketika kamu berani membuat janji sehebat itu. Padahal aku tau itu bukan hal mudah untukmu. 

Bukannya aku memaksamu untuk mengakhiri rasa yang telah bertahun-tahun kita pertahankan bersama. Aku hanya tersiksa melihatmu begitu hancur, rapuh, menghabiskan air matamu hanya untuk menangisi orang sepertiku. Aku yang tega meninggalkanmu. Aku yang tega menggoreskan luka sedalam itu di relung hati lembutmu, luka yang aku yakin tak akan mudah sembuh. Aku ingin kamu berhenti! Aku ingin kamu kembali sebersinar dulu, ketika pertama kali aku jatuh cinta pada kilauan sinarmu. Saat ini, setelah sebuah keputusan berpisah terlanjur dibuat, aku hanya ingin kamu menciptakan dunia barumu tanpa aku. Bahagia bersama orang yang lebih pantas menerima dirimu yang hampir tanpa celah itu. Maafkan aku ..

Berkali kali aku tersenyum mengingat kejadian dua hari lalu ketika dengan begitu tegas kamu mengucapkan janji itu ditambah dengan mata beningmu yang penuh kilat keseriusan. Saat itu aku hampir yakin kamu bisa melakukannya ...

Dua jam lalu ketika aku mendapati satu diantara sepuluh mawar itu adalah mawar palsu, aku sadar janji itu hanya sekedar janji, tak akan punya kesempatan untuk ditepati.

Mawar palsu ini, selamanya dia tak akan pernah layu ....

Kamu, selamanya akan tetap menjadi kamu. Yang masih terus mencintaiku dan mengharapku memilih jalan berputar, kembali kearahmu ...

Sekali lagi maafkan aku ..

Dan terima kasih untuk cintamu yang tak terbendung itu ..


05 Januari 2013 – 15.59
Dunia Dalam Aksara - YanisNP

.:. Bagaimanapun .. Aku Mencintaimu .:.


AKU MENCINTAIMU BUKAN HANYA UNTUK HARI DIMANA KETIKA KAMU MASIH MEMPUNYAI SEGALANYA. TAPI AKU MENCINTAIMU BAHKAN KETIKA KAMU ADA DALAM KONDISI TERBURUKMU.


AKU MENCINTAIMU DENGAN ATAU TANPA PENYAKIT BODOH ITU !!
 
Aku ingat pernah mengucapkan itu di depanmu. Dengan lantang, dengan tegas, dengan penuh harapan. Dengan mata berkaca-kaca dan hati tersayat penuh luka. Bukan sekedar luka patah hati yang dialami remaja-remaja labil karena harus putus hubungan saat masih begitu mencintai kekasihnya. Ini luka yang nyata bercampur dengan kecewa, menyatu dengan lelah, melebur dalam ketidak mampuan mengambil keputusan.

~~

“Maafkan aku, Putri. Mungkin kamu tak pernah merasakan bagaimana hubungan kita berjalan diatas rasa tertekan. Aku tidak lagi merasakan kesederhanaan yang damai seperti dulu. Aku merasa ... ini membebanimu”

Aku hanya menatap jauh kedalam matanya, kecewa, nyaris tidak percaya dengan sederet kalimat yang diucapkannya cukup jelas barusan. Dia mengakhiri hubungan yang mati-matian kami pertahankan 3 tahun terakhir ini hanya karena dia tak mau membebaniku dengan kekurangannya. 

“Sedangkal itu cintamu?”, hanya itu yang bisa kupertanyakan. Bibirku kaku, tidak ada kalimat panjang lebar meskipun ada begitu pertanyaan yang menuntut jawaban. 

“Kamu tau sedalam apa aku mencintaimu. Aku begitu ingin melihatmu bahagia dengan orang yang pantas, Putri”

Dia bodoh! Dia tau separuh hatiku atau bahkan mungkin semuanya telah terpatri erat pada hatinya. Apapun alasan untuk keputusannya itu akan membawaku hilang, pergi, ikut bersama keinginan bodohnya. Aku tidak akan lagi utuh.

Akan kuceritakan ..

Kami menjalani hubungan ini dengan tidak mudah. Ada banyak, berkali kali, air mata yang mengalir hanya karena satu alasan yang selalu sama. Ini bukan air mata kecewa, bukan air mata cemburu atau bahkan air mata kebencian. Bukan! Ini air mata ketakutan ..

Aku sering menghabiskan malam-malam panjang hanya untuk duduk diam menghadap kiblat, memanjatkan doa, menyebut namanya disetiap bait kalimat-kalimat nyaris putus asa yang kukirim untuk Tuhan. Aku tidak pernah lupa sedetik pun pada ketakutakanku itu, ketakutan yang makin hari semakin nyata .. takut kehilangannya.

Dia sakit ..

Sebuah penyakit jantung yang cukup parah. Kapan pun tangan Tuhan menyentuhnya aku harus siap, dia pergi .. selamanya.

Sudah kubilang ini bukan cerita anak remaja labil yang menangis di malam-malam sunyi hanya untuk mengenang segala macam hal tentang mantannya. Ini lebih rumit .. Lawan mainkku bukan hanya sekedar kenangan indah dengan mantan atau sakit hati yang tidak kunjung sembuh. Tapi aku tengah bermain langsung dengan cinta, penyakit itu, dan Tuhan. Iya, lawan mainku memang sesulit itu. 

Setiap hari aku coba berdebat dengan Tuhan, memohonNya mengerti bahwa aku tidak akan sanggup kehilangannya apalagi mengikhlaskannya pergi. MemintaNya untuk memberikan waktu lebih banyak untukku menemani belahan jiwaku melawan penyakitnya. Tapi, siapa yang bisa menjamin rencana Tuhan? Aku lelah, aku putus asa ....

“Putri, penyakit ini tidak akan berkompromi lebih lama lagi. Dia bisa mengambilku kapan saja darimu. Jadi apa bedanya jika kita melakukannya sekarang, melakukan perpisahan itu sekarang? Semuanya akan sama, aku akan pergi, meskipun tidak ada yang bisa memastikan kapan itu benar-benar terjadi. Kalau Tuhan mengizinkan, di lain kehidupan aku berjanji untuk menjadi bagian dari hidupmu”

Air mataku mangalir lagi. Tuhan, kenapa harus aku? Kenapa harus dia? Kenapa harus kita?

“Dengarkan aku! Kamu tidak pernah memintaku mendoakanmu setiap menitnya, tapi aku melakukan itu untuk kesembuhanmu. Kamu tidak pernah memintaku menjagamu, memastikan kamu baik baik saja, tapi aku melakukan itu demi melihatmu tetap kuat menjalani hari-harimu. Kamu tidak pernah memintaku bertahan sejauh ini menemanimu, tapi aku melakukannya. Aku berharap besar padamu. Karna aku mencintaimu dengan atau tanpa penyakit bodoh itu!” 

Dia diam beberapa detik sebelum akhirnya menarikku kedalam pelukannya. Aku menangis, bukan lagi isakkan yang tertahan, tapi tangisan lelah dan takut yang semakin nyata. Dia juga begitu. Aku merasakan air matanya meleleh dibahuku. Ketakutan kami sama, bahkan mungkin ketakutannya lebih besar dariku.

“Maafkan aku. Harusnya aku tau siapa orang yang sangat mencintaku ini. Siapa yang telah memberikan hampir seluruh waktu dan hidupnya untukku. Harusnya aku tidak pernah meminta hal bodoh itu. Maafkan aku. Terima kasih, Putriku”

“Tuhan tak akan berikan ujian melebihi kemampuanmu sayang. Jangan berpikir kamu lemah, karna kamu telah kuat dari setiap masalah yang diberikanNya”

“Terima kasih Putri, kamu membuatku merasa memiliki hal-hal yang belum kumiliki”, kemudian dia mengecup keningku lembut.
Ucapan-ucapan sederhana dan pelukan hangat seperti saat ini yang paling menguatkan kami untuk bertahan sejauh ini. Melawan penyakitnya, melawan ketakutan, melawan Tuhan, dan membuat takdir kami sendiri ..

05 Januari 2013 – 15.47
Dunia Dalam Aksara - YanisNP

Selasa, 01 Januari 2013

.:. Dear Matahariku .:.


Dear matahariku :)

Bagaimana kabarmu? Kabar hatimu?

Aku rindu. Banyak sekali yang kurindukan darimu. Senyum teduhmu. Tatapan tajammu. Ketegasan genggamanmu. Cahaya terangmu disetiap gelapku. Tapi aku paling merindukan perhatianmu yang tak pernah nyata itu.

Matahari, aku rindu saat saat dimana aku bisa mencintaimu sedalam dulu. Memunguti satu demi satu hal hal yang berkaitan tentangmu. Memaksakan hatimu dan hatiku bersatu dalam ikatan yang utuh.

Aku rindu berlari kencang mengejar sosokmu yang menjauh dan hampir hilang dari pandangan. Lalu kemudian berhenti kelelahan dan duduk diam sampai akhirnya kamu kembali padaku dalam nyata yang masih semu.

Apa yang kita lakukan dulu memang lucu. Emm, mungkin bukan kita, hanya aku. Hanya aku yang begitu menginginkanmu meskipun kamu dengan tegas berkata lewat sikapmu Tidak usah berharap lebih padaku!. Hanya aku yang masih saja dengan senang hati menangkap perhatian kecilmu yang kuartikan besar, sangat besar, meskipun kamu dengan jelas pernah menamparku dengan kalimatmu Aku nyaman hanya menjadi temanmu. Tidak usah memintaku menjadi lebih dari itu

Matahariku, bagaimana kabarmu? Kabar hatimu?

Aku tidak pernah merasa sehampa ini. Entah sejak kapan tiba-tiba semuanya berhenti. Tidak ada lagi keinginan memiliki yang meluap-luap itu. Tidak ada lagi gelombang ketertarikan yang maha dahsyat itu. Tidak ada lagi lagu dan puisi puisi yang kutulis dalam bingkai tawa dan air mata untukmu. Hilang. Selesai. Cinta itu mati rasa. Dia kehilangan eksistensinya.

Aku lupa sejak kapan ...

Mungkin sejak semuanya tidak lagi serupa kabut, semakin jelas. Sejak harapan-harapan itu bukan lagi sebuah siluet palsu yang coba menipu. Sejak aku melihat ketegasan paling tegas dimatamu yang berbicara bahkan nyaris berteriak dan tepat menyentuh kehangatan cintaku yang masih begitu bersemangat menunggu balasan darimu Aku mohon berhentilah mengharapkan seseorang yang tidak pernah menginginkanmu. Cinta itu harga diri. Mungkin ketika kamu berhenti dan pergi saat itu aku akan merubah haluan hatiku untuk berbalik mengejarmu. Saat ini aku tidak pernah sedikitpun merindukanmu. Tidak pernah ada percikan rasa cinta di hatiku. Dan kurasa kamu paham tentang itu? Lalu untuk apa kamu bertahan, menunggu, bahkan terkesan memaksa untuk bisa memilikiku?

Aku masih sering mendengar ucapmu itu di setiap malam malam panjang penuh air mata. Kadang bahkan terdengar ditengah hiruk pikuk keramaian. Begitu menyakiti, begitu menyadarkan, begitu benar!

Bertahun tahun lalu ...

Tapi hingga kini cinta itu mati rasa. Belum ada yang sehebat dirimu menarik perhatianku, mempesona pandanganku, dan memeluk hatiku dalam ketidakpastian. Belum kutemukan lagi cinta seluar biasa kamu matahariku ...

Bagaimana kabarmu? Kabar katimu?

Masihkah sebeku dulu?

Aku telah memaksa cinta itu berhenti. Dan aku telah menuntut diriku untuk pergi. Tapi setelah semua lewat bertahun-tahun lalu .... kamu belum juga merubah haluan hatimu untuk berbalik mengejarku.

01 Januari 2012 – 19.29
Dunia Dalam Aksara - YanisNP

.:. Selingkuh! .:.


“Dua tahun kita menjalani hubungan terlarang ini. Aku percaya kita bisa bertahan lebih lama lagi. Kita berjuang bersama, demi kesalahan yang terlanjur terjadi”

“Sampai kapan aku ‘hanya’ jadi selingkuhanmu? Apa terlalu mustahil memilikimu seutuhnya? Hanya itu yang kuinginkan, kumohon mengertilah! Aku lelah dengan hubungan sembunyi-sembunyi seperti ini. Ambilah keputusan! Kuharap keputusanmu tepat!”
Kamu mencium keningku sebelum pergi dengan langkah langkah panjang. Meninggalkanku dalam bimbang yang keterlaluan …

~~

Raka bukanlah laki-laki yang pantas ditinggalkan. Aku bahkan tidak punya satu alasan tepat kenapa aku harus berselingkuh dengan Jerry. Semestara aku sudah mempunyai pacar seluar biasa Raka. Empat tahun aku menjalani hubungan indah ini dengan Raka. Orang tua kami sudah saling mengenal dengan baik. Sebelum dua tahun lalu aku mengenal Jerry …

Raka, laki-laki kantoran dengan bisnis dimana-mana. Dia sukses, tampan, kaya, dan tak pernah meninggalkan ibadahnya. Apa lagi yang kurang? Aku sering beranggapan Raka adalah malaikat tanpa sayap yang tersesat dibumi lalu karna beruntung akhirnya menjadi pengusaha sukses. Cinta dan kasih sayangnya padaku tidak perlu diragukan lagi. Meluap-luap, bahkan kadang terkesan berlebihan. Dia menghargaiku lebih dari dia menghargai dirinya sendiri. Dan kenyataannya, aku mencintainya lebih dari aku mencintai Jerry.

Hanya saja ada sesuatu dalam diri Jerry yang tidak pernah bisa kudapatkan pada Raka. Jerry benar-benar membuatku menjadi diriku yang apa adanya. Aku yang menyukai hal-hal aneh, seperti bermain layang-layang misalnya. Jelas aku tidak bisa melakukan itu dengan Raka yang punya kesibukan seambrek. Atau aku yang suka jalan-jalan tanpa tujuan, hanya berputar-putar, lalu berhenti di satu café dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk diam melamun, melamunkan apa saja dari hal-hal yang mungkin terjadi sampai hal-hal mustahil. Raka jelas tidak menyukai kebiasaanku yang satu ini. Menurutnya aku hanya buang-buang waktu.

Tapi Jerry berbeda, dia menemaniku bermain layang-layang seharian, menari-nari ditengah hujan, atau sekedar bermain kartu sambil makan siang. Pernah Jerry mengajakku berkeliling Surabaya, menembus gerimis sampai menantang hujan, ketika matahari hampir tenggelam kami singgah disebuah tempat makan dan aku ingat dia membiarkanku melamun menatap langit senja yang bersatu dengan gulungan awan mendung selama satu jam lamanya, tanpa mengangguku sama sekali, dia hanya diam sambil mengaduk-aduk minumannya. Jerry sangat tau apa yang kuinginkan. Berbeda dengan Raka yang meskipun dia sangat menghargaiku tapi dia tidak mendukung beberapa hal yang kusukai.

Awal mula hubunganku dengan Jerry hanya sebatas teman dekat. Kami sering melakukan hal-hal aneh bersama. Sampai akhirnya percikan rasa itu tumbuh dengan pelan tapi pasti, memanipulasi otakku sehingga terus memikirkannya, sampai dia berhasil memiliki separuh hatiku yang dulu sepenuhnya untuk Raka.

Jerry dan aku menghabiskan semakin banyak waktu bersama. Selama seminggu aku nyaris melupakan Raka. Aku jarang sekali mengirim kabar padanya seperti yang setiap hari kulakukan. Aku seringkali lupa mengingatkan jadwal makannya yang tidak beraturan karena kesibukannya dikantor. Sampai suatu malam Raka berdiri diambang pintu rumahku sambil membawa rangkaian bunga mawar putih kesukaanku, dan sekotak martabak kesukaan Mama. Tampaknya dia mulai menyadari perubahanku ..

“Kamu berubah sayang. Kenapa?”

“Itu hanya perasaanmu saja. Aku baik-baik, sama sekali tidak merasa ada yang berubah”

“Tapi aku merasakannya. Apa ada yang salah denganku?”

“Nggak. Sama sekali nggak ada”, aku merasa sangat menyesal saat itu. Ini semua salahku, tapi dia merasa ini semua salahnya. Apa yang telah kulakukan terhadap orang sebaik dia??

“Oke. Aku percaya ..” Dia tersenyum tulus sekali. Aku bisa melihat dengan jelas kepercayaan yang terpancar dimatanya. Dia mempercayaiku dan aku mempermainkan kepercayaan itu. Bodoh!

“Maafkan aku sayang. Aku janji semuanya akan baik-baik saja. Mungkin hanya karna aku sedang banyak kerjaan dikantor, sampai aku sering melupakanmu. Maaf ..”

Sambil meletakkan telapak tangannya yang hangat dipipiku dia berkata, “Jangan meminta maaf, ini bukan salahmu. Mungkin memang sudah seharusnya aku memberikan waktu sedikit untuk kamu menyelesaikan pekerjaanmu di kantor. Tidak masalah dear ..”

Tuhan, seumur hidup belum pernah aku tau apa arti cinta yang paling benar. Cinta terdiri dari macam-macam pengertian. Tapi mungkin apa yang dirasakan Raka padaku adalah cinta yang paling benar. Dia memaafkan, menghargai, dan menitipkan kepercayaan padaku. Sementara aku menghancurkan semuanya ..

~~

Sudah dua minggu aku tidak berhubungan sama sekali dengan Jerry. Sejak dia menuntutku untuk membuat keputusan memilih satu diantara pilihan yang ada. Sampai akhirnya semalam aku mengirim pesan singkat padanya ..

Aku sudah punya keputusan seperti yang kamu mau.
Jam makan siang besok kutunggu ditempat biasa.

Dan sekarang aku disini. Ditempat makan langganan kami. Di luar sedang hujan besar, tidak menutup kemungkinan Jerry akan terlambat lebih lama lagi. Aku melirik jam dinding putih disamping kananku, sudah lewat 30 menit dari jam makan siang yang dijanjikan. Jerry bukan tipe orang yang suka mengulur waktu, dia jarang sekali terlambat. Meskipun diluar sedang hujan sebesar itu tapi rasanya aneh ketika seorang Jerry membiarkan setengah jam terlewat dengan sia-sia.

Aku menyerah! Lima menit lagi aku harus sudah tiba dikantor. Di dalam mobil aku masih terus menatap kosong kearah pintu café, kemudian memandang berkeliling mencari sosok Jerry yang mungkin saja datang terlambat selama satu jam. Terakhir aku menatap layar ponselku, berharap ada pesan dari Jerry yang mengabarkan bahwa dia tidak bisa menemuiku siang ini. Nihil. Jerryku, dimana kamu?

~~

Dua hari aku berusaha menghubungi Jerry lewat sms, telepon, bahkan aku sempat telepon kerumahnya. Tapi semua terlewati tanpa hasil. Jerry benar-benar rapi membuat dirinya menghilang. Sampai akhirnya sore ini aku dalam perjalanan menuju rumahnya didaerah Perumahan Darmo. Segala rasa ingin tauku sudah tidak dapat ditahan lagi. Aku rindu sekaligus merasa bersalah padanya.

Pintu rumah besar itu tetutup rapat. Setelah menekan bel 3 kali barulah seorang perempuan dengan pakaian lusuh membukakan pintu. Aku mengira itu pembantu rumah Jerry.

“Cari siapa ya Non?”, ujarnya sambil memperhatikanku dari atas kebawah kemudian keatas lagi. Ini memang pertama kalinya aku ke rumah Jerry. Meskipun selama ini seringkali Jerry mengajakku melewati depan rumahnya, hanya lewat, tanpa pernah mengajakku mampir.

“Jerrynya ada?”

Raut wajah perempuan itu berubah, pilu, “Temannya mas Jerry ya Non? Emangnya Non belum tau keadaannya mas Jerry?”

Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba melingkupiku. Khawatir “Jerry kenapa bik? Saya nggak tau apa-apa. Ini Saya kesini karena udah lama Jerry nggak bisa dihubungin. Ada apa ya bik?”

“Mas Jerry sudah hampir dua minggu ini koma dirumah sakit Non. Kecelakaan. Di Rumah Sakit Darmo situ”

Aku tidak benar-benar mendengar lagi apa yang perempuan itu ucapkan setelah kata ‘koma’. Pandanganku seketika mengabur, bahkan tanpa bilang terima kasih aku langsung berlari memasuki mobil dan menekan gas dalam-dalam.

~~

Aku membuka pintu hijau tinggi itu dengan perasaan campur aduk. Didalam ruangan dingin beraroma khas rumah sakit aku melihatnya terbaring dengan banyak sekali selang dan kabel di tubuhnya. Kepalanya terbalut perban, di tangannya yang bebas dari selimut tampak luka memar disana sini. Jerryku, apa yang terjadi?

Seorang perempuan seumuran mamaku yang kukenal lewat foto di dompet Jerry sebagai mamanya, menghampiriku yang beberapa menit hanya tertugun didekat pintu, “Temannya Jerry yaa?”

“Iya tante. Jerry kenapa?”, aku tak sanggup menyembunyikan raut khawatirku yang pasti terlihat sangat berlebihan.

“Kecelakaan. Parah. Dia koma dua minggu ini”, wanita itu berkata terputus-putus sambil membimbingku menuju tempat tidur Jerry. Dalam jarak sedekat ini aku bisa melihat memar-memar yang lebih banyak. Bibirnya sobek dan mata kanannya bengkak kebiruan.

“Sama sekali nggak ada kemajuan ya tante?”

“Sekitar dua hari yang lalu dia sempat bergumam, pelan sekali, dia hanya menyebut satu nama .. ‘Riani’”, aku terlonjak kaget, benar-benar kaget sampai nyaris merasakan darahku berhenti mengalir saat itu juga. Namaku, Jerry menyebut namaku dua hari yang lalu ditengah komanya. Dua hari yang lalu adalah hari dimana aku menunggunya satu jam di tempat makan kami yang biasa. Berharap dia datang dalam keadaan basah kuyup menerobos hujan. Jerryku ..

Air mataku menetes satu-satu. Kenapa aku tidak merasakan firasat apa-apa saat belahan hatiku yang lain (selain Raka) mengalami musibah sehebat ini?

“Setelah itu dia tidak menunjukkan kemajuan apa apa lagi. Dokter menyarankan untuk menghadirkan Riani itu disini, tapi Tante tidak tau siapa dia. Teman-teman Jerry juga tidak mengenal siapa Riani”, wanita itu melanjutkan setengah terkejut karena melihatku menangis.

“Mungkin kamu tau siapa Riani?”, ada suara lain. Disudut sofa yang terletak dipojok ruangan seorang perempuan cantik dengan rambut panjang dan penampilan sangat feminim menyahut lirih, melontarkan pertanyaan yang entah harus kujawab apa. Sejak aku masuk ruangan ini sepertinya aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Matanya bengkak, mungkin terlalu banyak menangis. Siapa dia? Sepertinya Jerry tidak pernah bercerita tentang perempuan mempesona ini.

“Emmm, saya juga nggak tau siapa Riani”, dengan gugup dan terbata-bata aku berhasil mengucapkan satu kalimat itu dan sangat berharap tidak tertangkap bahwa aku sedang berbohong.

“Aku sudah mencari tau kemana-mana, tapi tetap tidak kutemukan kejelasan tentang Riani. Padahal hanya dia satu-satunya harapan Jerry bisa sadar dari komanya. Aku hanya ingin Jerry sembuh dan bisa melangsungkan pernikahan dua bulan lagi. Hanya itu ..”

“Pernikahan? Jerry menikah? Dengan siapa?”

“Kenalkan, Tara ini tunangan Jerry. Mereka akan melangsungkan pernikahan dua bulan lagi”, mama Jerry menjawab pertanyaan yang kulontarkan sambil menarik perempuan bernama Tara yang sekarang sedang tersedu-sedu menangis itu kedalam pelukannya.

Siapa yang bisa menjelaskan padaku tentang semua kenyataan perih ini? Siapa pun, aku akan membayarnya mahal !!

Aku terduduk lemas dikursi plastik samping ranjang. Semua mulai terbuka jelas satu-persatu. Aku percaya Jerry sangat mencintaiku, itu sebabnya dia memintaku untuk memberi keputusan pasti tentang hubungan kami. Karnea dengan keputusan itu pula dia akan memberikan kepastian pada seseorang, pada tunangan yang akan dinikahinya dua bulan lagi, Tara.

Aku memandang Jerry dan Tara bergantian, lalu teringat Raka. Labirin seperti apa sebenarnya yang sedang menyesatkan kami. Apa ini yang orang sebut-sebut sebagai karma? Mungkin akan sesakit ini juga rasanya jika Raka tau aku telah megkhianatinya dua tahun ini. Berbohong padanya dengan sangat rapi. Mempermainkan kepercayaannya, selingkuh dengan orang yang telah mempunyai tunangan dan bahkan akan menikah dalam waktu dekat.

Kelebatan kenyataan itu belum juga beres. Jelas sudah sekarang, kenapa Jerry tidak pernah mengajakku mampir kerumahnya, karena dia tak mau keluarganya mengenalku, selingkuhannya. Kenapa dia begitu menikmati saat-saat tertawa lepas bersamaku, karena aku tau seperti apa karakter Jerry dan dari penampilannya saja aku sudah cukup paham Tara jenis perempuan seperti apa. Jerry merasa dia tidak mejadi dirinya sendiri ketika bersama Tara. Sama seperti aku tidak pernah merasa benar-benar bebas ketika bersama Raka.

Kejelasan ini begitu perih!

Wajah Jerry yang sedang bermain layang-layang dan Raka yang sedang sibuk dimeja kerjanya berseliweran silih berganti di otakku. Mereka berdua, orang-orang berharga dalam hidupku kenapa membuat cinta jadi sedemikian rumit. Ditambah dengan kehadiran Tara. Kalau memang cinta punya banyak pengertian, jenis pengertian cinta seperti apa yang sedang kami alami?

“Kamu siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya Jerry tak pernah mengenalkanmu padaku”, Tara membuyarkan lamunan piluku sambil mengusap sisa-sisa air matanya.

“Maafkan Saya Tara. Saya Riani …”, entah dorongan kekuatan macam apa yang bisa membuatku berani membuka identitas Riani. Riani yang selama dua hari ini menjadi buronan keluarga Jerry.

“Riani?”, Tara menangis lagi. Aku yakin kali ini adalah air mata terharu. Dia menempelkan kedua telapak tangannya dipipiku. Tangannya dingin …

“Iya, Saya Riani. Riani yang kamu cari. Riani yang Jerry maksud”

“Aku akan meninggalkan kamu dan Jerry berdua. Aku tak tau harus berbuat apa untuk Jerry. Tapi kurasa kamu tau. Terimakasih Riani …”

Sekarang aku sendirian di ruangan itu. Satu menit lamanya aku hanya berdiri mematung. Sejenak aku tidak tau harus melakukan apa, sampai kemudian aku hanya memandang wajah Jerry yang pucat. Aku nyaris bisa merasakan sakit memar dan luka ditubuhnya. Mataku terpejam, merasakan dingin AC dan aroma obat-obatan diruangan ini.

“Jerry, aku merindukanmu. Dua minggu ini jadi masa-masa paling berat selama dua tahun hubungan kita. Maaf karna aku memberimu kesempatan untuk masuk dalam hidupku, kemudian mencintaiku. Maaf karna sampai hari ini aku tak bisa meninggalkan Raka demi kamu. Maafkan aku untuk semua saat-saat sulit kita”

Aku menarik nafas sejenak, sambil mengenggam tangan dingin Jerry aku melanjutkan kalimatku dengan susah payah “Jika memang kamu lelah dengan hubungan diam-diam ini, kamu boleh berhenti sayang. Kamu boleh meyerah. Karna aku juga menyerah. Sekarang aku sadar, Raka dan Tara bukan orang-orang yang pantas dikhianati. Aku bisa melihat dengan jelas, sejelas aku melihatmu sekarang, cinta Tara begitu besar padamu. Dia sangat takut kehilanganmu, sayang”

Satu tetes air mata terjatuh dipipiku, dilanjutkan tetes demi tetes berikutnya. Kalimat selanjutnya terasa lebih sulit diucapkan “Setelah ini jika kamu tak menemukan aku lagi dalam hidupmu, kamu perlu tau bahwa aku telah bahagia bersama Raka. Dan pastikan bahwa kamu juga akan bahagia bersama Tara. Cinta adalah menerima pasangan kita beserta semua kekurangannya. Terimakasih atas semua perjuanganmu untuk hubungan kita. Terimakasih kamu bisa bertahan sejauh ini.
Jerryku .. kumohon buka matamu .. untukku, untuk Tara, untuk Mama, dan untuk memulai semuanya dari awal”

“Cepet sembuh sayang, Tara dan pernikahan kalian menunggumu”. Aku mencium kening Jerry lama, membiarkan itu menjadi ciuman terakhir dan terindah.

Aku telah menyelesaikannya …

Kerumitan, kebohongan, dan pengkhiantan ini selesai. Jerry, aku melakukan pengkhianatan terindah bersamamu. Dan aku tidak menyesal …



15 Desember 2012
Dunia Dalam Aksara - YanisNP